rational emotive behavior therapi
A. Sejarah Perkembangan
Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) sebagai salah satu
pendekatan dalam konseling individu dan kelompok, dikembangkan oleh
Alber Ellis sejak tahun 1955. Albert Ellis lahir di Pittsburg,
Pensylvania tahun 1913. Sebagai pakar psikologis klinis, ia memulai
karirnya di bidang konseling perkawinan, keluarga dan seks. Rational
Emotive Behavior Therapy lahir dari ketidakpuasan Ellis terhadap praktek
konseling tradisional yang dinilai kurang efisien, khususnya
psikoanalitik klasik yang pernah ditekuni. Berdasarkan temuan-temuan
eksperimen dan klinisnya, Ellis memperkenalkan pendekatan baru yang
lebih praktis, yaitu Rational Emotive Behavior Therapy. Pendekatan ini
menjadi popular bersamaan dengan dipublikasian buku perdanya ”Reason an
Emotion in Psychotherapy” pada tahun 1962. Albert Ellis (2 September
1913 – 24 Juli 2007) adalah seorang psikolog Amerika, ia dilahirkan dari
keluarga Yahudi dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah
Ellis adalah seorang pengusaha yang sering melakukan perjalanan bisnis
dan kurang memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dalam
otobiografinya, Ellis menyebutkan ibunya sebagai perempuan yang
tenggelam dalam kesibukannya sendiri dan merupakan pengoceh yang tidak
pernah mendengar orang lain. Seperti ayahnya, ibunya mempunyai jarak
emosional dari anak-anaknya. Ellis mengatakan bahwa pada saat dia pergi
sekolah, ibunya masih tidur dan pada saat pulang sekolah ibunya sudah
tidak ada di rumah. Kepahitan tentang kedua orang tuanya itu, Ellis
harus mengambil tanggung jawab untuk mengurus saudara-saudaranya.
Sebagai anak-anak, Ellis sering sakit dan menderita berbagai masalah
kesehatan pada masa remajanya. Pada umur 5 tahun, dia dirawat di rumah
sakit karena penyakit ginjal, kemudian juga karena penyakit amandel yang
menyebabkan infeksi kerongkongan yang parah sehingga memerlukan
operasi. Orang tuanya hampir tidak memberikan dukungan emosional dan
jarang sekali menjenguknya. Ellis mengatakan bahwa dia belajar
berkonfrontasi dengan penderitaannya itu. Pada tahun 1947 Ellis
memperoleh gelar Doktor kehormatan di Columbia dan pada saat itu dia
meyakini bahwa psikoanalisis merupakan bentuk terapi yang sangat
mendalam dan sangat efektif. Seperti halnya dengan para psikolog di saat
itu, dia sangat tertarik dengan teori Sigmund Freud. Kemudian lama
kelamaan kesetiannya kepada psikoanalisis memudar. Dalam formasi
awalnya, Ellis menekankan terapi rasional, yaitu unsur kognitif dari
perilaku manusia, asumsi ini sangat bertentangan dengan asumsi yang
popular pada pertengahan tahun 1950-an. Kemudian pendekatannya itu
diperluas dengan memasukkan unsur perilaku disamping unsur kognitif.
Modifikasi selanjutnya Rational Emotive Behavior Therapy ini mencakup
teknik-teknik konseling perilaku seperti relaksasi, metode khayal,
latihan menyerang perasaan malu. Dengan demikian, Rational Emotive
Behavior Therapy ini dapat dipandang sebagai model terapi perilaku yang
berorientasi kognitif. Pendekatan ini telah mengalami evolusi sedemikian
rupa, yang pada akhirnya menjelma menjadi pendekatan yang komprehensif
dan ekletik yang menekankan unsur-unsur berpikir, menimbang, memutuskan
dan melakukan. Rational Emotive Behavior Therapy tergolong pada ancangan
konseling yang berorientasi kognitif. Pendekatan ini merupakan salah
satu bentuk konseling aktif-direktif yang menyerupai proses pendidikan
(education) dan pengajaran (teaching) dengan mempertahankan dimensi
pikiran daripada perasaan. Perkembangan dan modifikasi selalu terjadi,
semula Ellis menekankan unsur rasional-kognitif, kemudian diperluas
dengan memasukkan unsur perilaku. Rational Emotive Behavior Therapy
tergolong pada ancangan konseling yang berorientasi kognitif-sejajar
dengan konseling realitas yang dikembangkan oleh Glesser-dengan beberapa
ciri menonjol, yaitu: bersifat didaktis, aktif, direktif, menekankan
situasi sekarang dan berfikir yang lebih rasional serta menekankan pada
segi aksi konseli. Dari situlah maka Rational Emotive Behavior Therapy
tak ubahnya merupakan proses pemerolehan pemahaman yang sekaligus tampak
pada perbuatan atau perilaku konseli.
B. Hakikat Manusia
Menurut Corey (2009: 276) Rational Emotive Behavior Therapy memandang
manusia pada dasarnya adalah memiliki kecenderungan untuk berpikir
rasional dan irasional. Manusia memiliki kecenderungan untuk
self-preservation, kebahagiaan, berpikir dan mengucapkan dengan
kata-kata, mencintai, berkumpul dengan yang lain, tumbuh dan aktualisasi
diri. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk self-destruction,
menghindari buah pikiran, prokantinasi, memiliki kepercayaan di luar
kenyataan, perfeksionis dan mencela diri sendiri, kurang bertoleransi,
menghindari potensi aktualisasi diri. Ketika berpikir dan bertingkahlaku
rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir
dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi
emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi,
interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan
psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak
logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh
prasangka, sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional diawali
dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan
budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari
verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan
cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara
berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri
harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat
diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang
rasional. Ellis (dalam Dryden & Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe
berpikir rasional adalah sebagai berikut: – Flexible preferences (saya
ingin diakui, tetapi saya tidak terlalu menginginkan) – Anti-awfulizing
beliefs (ini buruk untuk tidak diakui, tetapi ini bukanlah akhir dari
dunia) – High frustration tolerance beliefs (ini sulit untuk menghadapi
bahwa saya tidak diakui, tetapi saya dapat menoleransinya) – Acceptance
beliefs (contohnya self-acceptance: saya menerima diri saya jika saya
tidak diakui ; other-acceptance: saya dapat menerima anda jika anda
tidak mengakui saya ; life-acceptance: hidup adalah perpaduan kebaikan,
keburukan, dan kejadian netral. Selanjutnya Ellis (dalam Dryden &
Neenan, 2006: 2) membagi empat tipe berpikir irrasional adalah sebagai
berikut: – rigid demands (saya harus diakui). – awfulizing beliefs (jika
saya tidak diakui, ini adalah akhir dari dunia) – low frustration
tolerance beliefs (saya tidak dapat menoleransi bahwa saya tidak
diakui). – depreciation beliefs (contohnya self-depreciation: saya tidak
berharga jika saya tidak diakui ; other-depreciation: anda mengerika
jika tidak mengakui saya ; life-depreciation: hidup semuanya buruk jika
saya tidak diakui). Ellis (dalam Flanagan & Flanagan, 2004: 260)
menyatakan lima komponen dasar teori konseling, yaitu sebagai berikut: –
Manusia secara dogmatis menuruti gagasan irasional dan filosofi
personal. – Gagasan irasional menyebabkan manusia mengalami kesedihan
yang hebat dan kesengsaraan. – Gagasan ini dapat mendidih hingga sampai
kategori dasar. – Konselor dapat menemukan kategori gagasan irasional
ini dengan cukup mudah dalam logika konseli. – Konselor dapat
mengajarkan konseli dengan sukses bagaimana bangun dari kesengsaraan
yang disebabkan oleh kepercayaan irasionalnya.
C. Perkembangan Perilaku
1. Struktur kepribadian Pandangan pendekatan Rational Emotif Behavior
Therapy tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori
Albert Ellis. Menurut Ellis (2002: 9) ada tiga pilar yang membangun
tingkah laku individu, yaitu Antecedent event atau Adversities (A),
Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang
kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Menurut Dryden &
Branch (2008: 4) antecedent event (A) biasanya aspek situasi individu
yang berpotensi mampu memicu keyakinannya (B). Antecedent event (A)
yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau
sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan
seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi
seseorang. Menurut Dryden & Branch (2008: 8) perbedaan utama antara
pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy dan lainnya untuk terapi
kognitif-perilaku adalah dalam penekanannya pada belief (B). Dalam
Rational Emotif Behavior Therapy, belief (kepercayaan) adalah inti dari
emosi dan perilaku individu. Keyakinan tersebut adalah satu-satunya
kognisi yang merupakan B dalam teori ABC di Rational Emotif Behavior
Therapy. Belief (B) adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi
diri individu terhadap suatu peristiwa. Menurut Dryden & Branch
(2008: 8) keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang
rasional (rational belief) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional
belief). Keyakinan yang rasional memiliki karakteristik a) fleksibel
atau non-ekstrim, b) konsisten dengan kenyataan, c) logis, d) sebagian
besar fungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku dan kognitif, dan
e) Sebagian besar membantu individu dalam mengejar tujuan dasar dan
tujuan. Keyakinan yang tidak rasional memiliki karakteristik a) kaku
atau ekstrim, b) tidak konsisten dengan kenyataan, c) tidak masuk akal,
d) sebagian besar disfungsional dalam emosional, konsekuensi perilaku
dan kognitif, dan e) sebagian besar merugikan individu dalam mengejar
tujuan dasar. Menurut Dryden & Branch (2008: 20) emotional and
behavioral consequence (C) merupakan konsekuensi dari akibat antecendent
event (A). Konsekuensi ini bisa berupa emosi, perilaku dam pemikiran.
Konsekuensi ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh
beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang keyakinan
rasional maupun keyakinan irasional. Menurut Corey (2009: 278) disputing
(D) merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menentang pikiran
yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan kepercayaan-kepercayaan
irasional yang dimiliki individu. Terdapat tiga bagian dalam tahap
disputing, yaitu sebagai berikut: a. Detecting irrational beliefs
Konselor menemukan keyakinan konseli yang irasional dan membantu konseli
untuk menemukan keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri. b.
Debating irrational beliefs Kemudian konseli berdebat dengan kepercayaan
disfungsionalnya dengan belajar bagaimana berpikir secara logis dan
empiris. Selain itu juga dengan cara belajar bagaimana berargumen dengan
kuat dan bertindak sesuai dengan kepercayaannya. c. Discriminating
irrational beliefs Kemudian yang terakhir adalah konseli belajar
membedakan kepercayaan irasional (self-defeating) dan kepercayaan
rasional (self-helping). Menurut Corey (2009: 279) hasil akhir dari
proses A-B-C-D berupa Effect (E). Effect (E) adalah satu filosofi
efektif yang memiliki sisi praktis. Suatu sistem keyakinan yang baru dan
efektif terdiri dari penggantian pemikiran yang tidak sehat dengan
pemikiran yang sehat. Jika berhasil melakukan hal tersebut maka akan
timbul new feeling (F) yaitu satu perangkat perasaan yang baru.
2. Pribadi sehat dan bermasalah
a. Pribadi bermasalah
Ellis & Dryden (1997: 15-16) menyatakan pribadi bermasalah adalah
sebagai berikut: – All-or-none thinking: “Jika saya gagal dalam
beberapa tugas penting, saya mengalami kegagalan total.” – Jumping to
conclusions and negative non sequiturs: ”Sejak mereka melihat saya
muram, mereka akan melihat saya sebagai ulat yang tidak kompeten.” –
Fortune-telling: ”Karena mereka menertawakan kegagalan saya, mereka akan
membenci saya selamanya.” – Focusing on the negative: ”Karena saya
tidak dapat bertahan pada hal yang salah, saya tidak dapat melihat
sesuatu yang baik yang terjadi pada hidup saya.” – Disqualifying the
positive: ”Ketika mereka memuji saya dalam kebaikan yang telah saya
lakukan, mereka hanya bersikap ramah kepada saya dan melupakannya.” –
Allness and neverness: “Karena kondisi kehidupan seharusnya baik dan
sebetulnya buruk dan sangat tidak dapat ditoleransi, mereka akan selalu
menempuh jalan ini dan saya tidak akan pernah merasa bahagia.” –
Minimization: “Kebaikan saya dibidik dalam permainan yang bersifat
keberuntungan dan tidak penting. Tetapi keburukanku dibidik, yang mana
saya secara mutlak tidak pernah dibuat.” – Emotional reasoning: “Karena
saya pernah tampil buruk, saya merasa seperti orang tolol, dan kekuatan
perasaan saya membuktikan bahwa saya tidak ditakdirkan baik.” – Labeling
and overgeneralization: “Karena saya harus tidak gagal dalam pekerjaan
penting dan harus selesai, saya adalah pecundang.” – Personalizing:
“Sejak saya bertindak jauh lebih buruk bahwa saya secara mutlak harus
bertindak dan mereka menertawakan, saya yakin mereka hanya menertawakan
saya, dan ini sangat mengerikan.” – Phonyism: ”Ketika saya tidak
melakukan sebaik yang seharusnya saya lakukan dan mereka masih memuji
dan menerima saya, saya yakin itu palsu.” – Perfectionism: ”Dalam
menyelesaikan pekerjaan, saya harus menyelesaikannya secara sempurna.”
b. Pribadi sehat
Ellis & Dryden (1997: 18-19) menyatakan pribadi sehat adalah
sebagai berikut: – Self-interest: Pribadi sehat cenderung bijaksana dan
menyenangkan untuk diri mereka sendiri dan menaruh diri mereka sendiri
menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain. – Social interest:
Manusia memilih hidup dan menikmati diri mereka sendiri dalam kelompok
sosial atau komunitas. Jika mereka tidak bertindak secara moral,
menyembunyikan kebenaran orang lain, dan menghasut kelompok masyarakat,
hal ini tidak akan disukai. Mereka akan menciptakan dunia yang ramah
yang mana mereka dapat hidup dengan nyaman dan senang. – Self-direction:
Pribadi yang sehat cenderung mengasumsikan tanggung jawab untuk
kehidupan mereka ketika secara simultan mengutamakan kerja sama dengan
yang lain. Mereka tidak membutuhkan atau menuntut banyak dukungan dari
yang lain, meskipun mereka mungkin mengutamakan dan bekerja untuk ini. –
High frustration tolerance: Pribadi yang sehat adalah mereka yang dapat
mengubah kondisi yang memuakkan pada diri mereka, menerima hal yang
tidak bisa mereka lakukan, dan memiliki kebijaksanaan dalam mehamai dua
perbedaan. – Flexibility: Pribadi yang sehat dan matang cenderung
fleksibel dalam berpikir, terbuka terhadap perubahan, dan tidak
berprasangka buruk dan pluralistik dalam pandangan mereka terhadap orang
lain. – Acceptance of uncertainty: Pribadi yang sehat cenderung
mengakui dan menerima gagasan bahwa kita tampak hidup di dunia yang
penuh dengan kemungkinan dan perubahan dimana kepastian mutlak tidak
bisa dipastikan dan kemungkinan tidak pernah akan terus ada. –
Commitment to creative pursuits: Kebanyakan manusia cenderung menjadi
pribadi sehat dan senang ketika mereka secara krusial dapat berbaur
dengan kelompok sosial atau komunitas dan sedikitnya satu kreasinya
dapat menjadi minat perhatian dari kelompok sosial atau komunitas,
seperti halnya kebanyakan manusia, bahwa mereka menganggap penting
mereka bisa menjadi bagian dari struktur yang baik dari kehidupan
disekitarnya. – Scientific thinking: Pribadi yang sehat memiliki
kecenderungan menjadi lebih objektif, realistis, dan ilmiah. –
Self-acceptance: Pribadi yang sehat biasanya senang hidup dan menerima
diri mereka sendiri karena mereka hidup dan memiliki kapasitas untuk
menikmati diri mereka sendiri. – Risk-taking: Emosi pribadi yang sehat
memiliki kecenderungan berani mengambil resiko dan mencoba melakukan apa
yang ingin dilakukan. Mereka menganggap itu adalah kesempatan baik
meskipun mungkin mereka gagal. Mereka memiliki kecenderungan menjadi
petualang tetapi tidak gegabah. – Long-range hedonism: Pribadi yang
sehat mencari ketenangan hidup untuk saat sekarang dan masa depan, dan
itu tidak didapatkan secara instan. – Nonutopianism: Pribadi yang sehat
menerima fakta bahwa tempat yang sempurna mungkin tidak dapat dicapai
dan mereka tidak pernah suka mendapatkan segala apa yang mereka inginkan
dan menghindari semua rasa sakit. – Self-responsibility for own
emotional disturbance: Pribadi yang sehat cenderung bertanggung jawab
atas kekacauan yang mereka buat daripada bertahan dengan tuduhan dan
hujatan orang lain.
D. Hakikat Konseling
Rational Emotive Behavior Therapy dilakukan dengan menggunakan
prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan
untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara
bersama-sama oleh konselor dan konseli. Karakteristik proses Rational
Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut: 1. Aktif-direktif,
artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu
mengarahkan konseli dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. 2.
Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus
pada aspek kognitif dari konseli dan berintikan pemecahan masalah yang
rasional. 3. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling
yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi konseli dengan
mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar
akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. 4.
Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan
hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku
konseli.
E. Kondisi Pengubahan
1. Tujuan konseling Menurut Corey (2009: 279) tujuan umum Rational
Emotive Behavior Therapy adalah mengajari konseli bagaimana cara
memisahkan evaluasi perilaku mereka dari evaluasi diri – esensi dan
totalitasnya – dan bagaimana cara menerima dengan segala kekurangannya.
Sedangkan tujuan dasarnya adalah mengajarkan konseli bagaimana merubah
disfungsional emosi dan perilaku mereka menjadi pribadi yang sehat.
Selain itu dua tujuan terpenting Rational Emotive Behavior Therapy
menurut Ellis (dalam Corey, 2009: 279) adalah a) membantu konseli dalam
proses mencapai unconditional self-acceptance dan unconditional other
acceptance, dan b) melihat bagaimana kedua hal itu saling berkaitan.
Sedangkan menurut Ellis (dalam Sharf, 2012: 339) tujuan umum Rational
Emotive Behavior Therapy adalah membantu konseli dalam meminimalisir
gangguang emosi, menurunkan self-defeating self-behaviors, dan membantu
konseli lebih mengaktualisasikan diri sehingga mereka bisa menuju ke
kehidupan yang bahagia. Sedangkan tujuan khususnya adalah membantu
konseli berpikir lebih bersih dan rasional, memiliki perasaan yang lebih
layak, dan bertindak efisien dan efektif dalam mencapai tujuan hidup
yang bahagia.
2. Sikap, peran dan tugas konselor Menurut Corey (2009: 280) konselor
yang menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy memiliki
tugas spesifik. Tahap pertama adalah konselor menunjukkan pada konseli
bahwa dalam pikirannya saat ini terlalu banyak pikiran-pikiran yang
irasional seperti “harus”, sebaiknya”, dan “seharusnya”. Konselor
mendorong dan sering membujuk konseli agar melakukan aktivitas yang akan
menyembunyikan keyakinan pengalahan diri mereka. Tahap kedua adalah
mendemonstrasikan bahwa konseli mempertahankan gangguan emosi mereka
aktif dengan meneruskan berpikir secara tidak logis dan realistis. Tahap
ketiga adalah membantu konseli memodifikasi pemikiran dan mengabaikan
gagasan irrasional mereka. Konselor membantu konseli memahami pikiran
irasional yang menyalahkan diri sendiri dan juga mengubah perilaku
menyalahkan diri. Tahap keempat adalah menantang konseli untuk
mengembangkan filosofis hidup yang rasional sehingga di masa depan
mereka mampu menghindari diri agar tidak menjadi korban keyakinan
irasional yang lain.
3. Sikap, peran dan tugas konseli Menurut Ellis (dalam Corey, 2009:
280-281) sesekali konseli mulai menerima bahwa keyakinan mereka
merupakan penyebab utama emosi dan perilaku mereka, maka mereka akan
mampu berpartisipasi secara efektif dalam proses restrukturisasi
kognitif. Dalam sekala besar, peran konseli dalam proses konseling
adalah sebagai pembelajar dan pelaksana. Konseling dipandang sebagai
proses reedukatif di mana konseli belajar cara menerapkan pemikiran
logis, latihan eksperimental dan perkerjaan rumah perilaku untuk
memecahkan masalah dan perubahan emosi. Proses terapeutik berfokus pada
pengalaman konseli di masa kini. Rational Emotive Behavior Therapy
utamanya menekankan pada pengalaman dan kemampuan konseli saat ini untuk
mengubah pola pemikiran dan emosi yang telah mereka konstruksi
sebelumnya. Konseli diharapkan untuk berpartisipasi aktif di luar sesi
konseling. Konseli belajar bahwa dengan melaksanakan pekerjaan rumah
dapat meminimalisir pemikiran yang salah. Pekerjaan rumah dirancang
secara cermat dengan tujuan untuk membuat konseli agar melaksanakan
tindakan yang mendorong perubahan emosi dan perilaku. Di akhir
konseling, konseli mengulas kemajuan mereka, membuat rencana dan
mengidentifikasi strategi mengatasi masalah potensial yang
berkelanjutan.
4. Situasi hubungan Menurut Corey (2009: 281) pada dasarnya Rational
Emotive Behavior Therapy merupakan proses kognitif dan direktif, maka
tidak perlu membutuhkan hubungan yang kuat antara konselor dan konseli.
Para praktisi Rational Emotive Behavior Therapy secara tanpa syarat
menerima semua konseli dan mengajari konseli untuk menerapkan penerimaan
tanpa syarat pada diri sendiri dan orang lain. Ellis (dalam Corey,
2009: 281) meyakini bahwa hubungan yang terlalu hangat dan pemahaman
yang terlalu banyak akan berakibat kontra produktif, memunculkan rasa
ketergantungan dan persetujuan dari konselor. Praktisi Rational Emotive
Behavior Therapy menerima konseli sebagai makhluk yang tidak sempurna
yang bisa ditolong dengan menunjukkan bahwa konselor peduli kepada
konseli, tanpa membuat konseli merasa didekte dan juga dengan
menggunakan beragam teknik semisal mengajar, biblioterapi, dan
memodifikasi perilaku. Ellis membangun hubungan dengan konselinya dengan
cara menunjukkan pada mereka bahwa mereka memiliki keyakinan yang besar
akan kemampuan mereka mengubah diri mereka sendiri dan mengatakan bahwa
mereka mempunyai cara untuk membantu mereka melakukannya. Menurut Ellis
(dalam Corey, 2009: 281) konseling dengan pendekatan Rational Emotive
Behavior Therapy sering terbuka dan mengarah dalam menyikap keyakinan
dan nilai mereka. Beberapa terapi berkeinginan berbagai kekurangan
mereka sebagai cara mempertanyakan gagasan tidak realistis konseli bahwa
terapis merupakan orang yang “lengkap”. Transference tidak didorong,
dan apabila tidak ada, konselor cenderung menghadapinya. Konselor ingin
menunjukkan bahwa hubungan transference didasarkan pada keyakinan
irrasional bahwa konseli harus disukai dan dicintai oleh konselor atau
figur orang tua.
F. Mekanisme
Pengubahan 1. Tahap-tahap konseling Menurut Froggatt (2005)
tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy secara umum adalah sebagai
berikut. a. Membantu konseli memahami bahwa emosi dan perilaku
disebabkan oleh kepercayaan dan pikiran. b. Menunjukkan bagaimana
kepercayaan dan pikiran seseorang mungkin tertutup. Format ABC sangat
berguna di sini. Konselor meminta konseli bercerita tentang Antecedent
event (A) seperti apa, Belief (B) seperti apa, dan Emotional consequence
(C) seperti apa. c. Mengajarkan konseli bagaimana melawan dan merubah
kepercayaan irasional, menggantinya dengan kepercayaan yang lebih
rasional. d. Membantu konseli mengubah perilaku konseli. Sedangkan
tahap-tahap Rational Emotive Behavior Therapy yang lebih rinci dan
operasional menurut Froggatt (2005) adalah sebagai berikut. a.
Melibatkan konseli – Membangun hubungan dengan konseli. Ini dapat
dicapai menggunakan empati, kehangatan dan respek. – Melihat
permasalahan yang dialami dan datang karena ingin dibantu penyelesaian
permasalahannya. – Mungkin cara terbaik adalah melibatkan konseli dalam
proses konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy. b.
Asesmen masalah, pribadi, dan keadaan – Diawali dari apa yang salah
dalam pandangan konseli. – Memeriksa beberapa gangguan sekunder:
bagaimana perasaan konseli memiliki masalah? – Membawa ke asesmen umum:
menentukan kemunculan gangguan secara klinis, menggali cerita pribadi
dan sosial, asesmen kedalaman suatu masalah, mencatat beberapa faktor
kepribadian yang berhubungan, dan memeriksa faktor kausatif
non-psikologis seperti kondisi fisik, obat-obatan, gaya hidup/faktor
lingkungan. c. Menyiapkan konseli dalam proses konseling – Klarifikasi
tujuan perlakuan untuk memastikan tujuan perlakuan konkrit, spesifik,
dan disetujui oleh konselor dan konseli serta menganalisis motivasi
konseli untuk berubah. – Mengenalkan kaidah dasar tentang Rational
Emotive Behavior Therapy. – Mendiskusikan pendekatan yang digunakan dan
implikasinya dalam perlakuan, kemudian membangun kontrak. d.
Implementasi program perlakuan – Menganalisis masalah spesifik yang mana
menjadi target masalah yang akan diselesaikan, memastikan kepercayaan
yang dilibatkan, merubahnya, dan mengembangkan home work. –
Mengembangkan perilaku yang fungsional untuk mengurangi kekhawatiran
atau memodifikasi cara berperilaku. – Menambah strategi dan teknik yang
sesuai seperti relaksasi, dan pelatihan keterampilan interpersonal. e.
Evaluasi Sebelum berakhirnya proses intervensi biasanya konselor
melakukan evaluasi terhadap perlakuan yang diberikan. Hal ini dilakukan
untuk memeriksa apakah terjadi peningkatan yang signifikan tentang
perubahan konseli dalam berpikir. f. Menyiapkan pengakhiran untuk
konseli Sesi konseling diakhiri jika konseli sudah merasa lebih baik
terkait permasalahan yang sedang dialaminya. Konselor juga akan
mengakhiri konseling jika konseli sudah benar-benar terentaskan
masalahnya dan jika masalah itu hadir kembali, konseli bisa dengan
mandiri mengentaskan masalahnya sendiri. 2. Teknik-teknik konseling
Menurut Corey (2009: 281) konselor yang menggunakan pendekatan Rational
Emotive Behavior Therapy harus menguasai berbagai macam metode dan
bersifat integratif. Pendekatan ini menggunakan berbagai teknik yang
bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan
kondisi konseli. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai
berikut. a. Teknik-teknik Kognitif – Disputing irrational beliefs Metode
kognitif dalam Rational Emotive Behavior Therapy yang paling umum
adalah konseling secara aktif mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan
konselor mengajari konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya
sampai ia mampu menghilangkan dan melunturkan kata “harus” dalam
dirinya. – Doing cognitive homework Konseli diharapkan membuat daftar
masalah mereka, mencari keyakinan absolut mereka, dan mempertentangkan
keyakinan-keyakinan tersebut. Doing cognitive homework merupakan cara
melacak dimensi “keharusan” dan “sebaiknya” yang ada pada kognisi
konseli. Doing cognitive homework juga bisa terdiri dari penerapan teori
ABC terhadap permasalahan yang dialami oleh konseli. Dengan cara yang
perlahan dan yang dibagi ke dalam beberapa sesi, konseli belajar
mengatasi kecemasan dan mempertanyakan pemikiran tidak rasionalnya yang
mendasar. – Changing one’s language Rational Emotive Behavior Therapy
menyatakan bahasa yang tidak tepat adalah salah satu bentuk penyebab
proses pemikiran yang terdistorsi. Konseli mempelajari bagaimana
menyatakan bahasa yang tepat agar tidak terjadi pemikiran dan perilaku
yang disfungsional. – Psychoeducational methods Program Rational Emotive
Behavior Therapy dan sebagian besar konseling kognitif behavior
mengenalkan memperkenalkan konseli dengan berbagai macam komponen
pendidikan. Konselor membelajarkan konseli tentang hakikat permasalahan
mereka dan bagaimana proses mengatasinya. Konseli lebih suka bekerja
sama dengan program perlakuan jika mereka memahami pentingnya teknik
yang digunakan. b. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) – Rational emotive
imagery Dalam rational emotive imagery konseli didorong untuk
membayangkan salah satu kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang
dapat terjadi pada dirinya. Misalnya ditolak oleh seorang wanita yang
benar-benar diinginkannya. Konseli mebayangkan dengan jelas kesulitan
ini sedang terjadi dan membawa sejumlah masalah ke dalam hidupnya.
Setelah itu konseli didorong untuk menjalin hubungan dengan konsekuensi
emosional negatif yang tidak diinginkan yang dipicu oleh kesulitan
tersebut. Misalnya cemas, depresi, dan membenci diri. Konseli merasakan
secara spontan apa yang dirasakannya dan tetap bertahan dengan perasaan
itu dalam beberapa saat. Setelah itu konseli berusaha mengubah perasaan
terganggu yang tidak sehat tersebut dengan konsekuensi perasaan negatif
yang sehat. Misalnya sedih, kecewa, menyesal dan tidak senang. Cara
melakukannya adalah dengan mengatakan keyakinan rasionalnya yang masuk
akal kepada dirinya dengan kuat dan berulang-ulang. Misalnya, “Ya dia
memang belum bisa menerima saya dan itu sangat menyakitkan bagi saya.
Dia belum bisa menerima saya mungkin karena dia belum mengenal saya”.
Konseli seharusnya tetap dalam bayangan rasionalnya itu sampai konseli
bisa mengubah perasaan negatif tidak sehatnya menjadi pernyataan negatif
yang lebih sehat. – Using humor Penggunaan humor dapat membantu
mengurangi keyakinan-keyakinan irasional dan perilaku self-defeating.
Rational Emotive Behavior Therapy menyatakan bahwa gangguan emosi sering
disebabkan oleh terlalu seriusnya seseorang menanggapi sesuatu. Humor
bisa sangat berharga untuk membantu konseli lebih santai dan tidak
menganggap terlalu serius masalah hidup. – Role playing Terdapat
komponen emosi dan perilaku dalam teknik bermain peran. Konselor sering
menginterupsi untuk menunjukkan pada konseli bahwa apa yang mereka
katakan sendiri pada konseli untuk mengubah perasaan yang tidak sehat
menjadi perasaan yang lebih sehat. Fokusnya adalah pada keyakinan yang
tidak rasional yang berhubungan dengan perasaan yang tidak menyenangkan
diubah menjadi keyakinan yang lebih rasional. – Shame-attacking
exercises Ellis mengembangkan latihan untuk membantu orang mengurangi
perasaan malu dalam melakukan sesuatu. Ellis berpikir bahwa kita bisa
dengan keras kepala menolak rasa maludengan berkata pada diri kita
sendiri bahwa bukan hal yang menyedihkan jika seseorang menganggap kita
bodoh. Tujuan utama latihan ini yang secara khusus melibatkan komponen
emosi dan perilaku, konseli bekerja agar tidak malu ketika orang lain
tidak sependapat dengan konseli. Latihan ini ditujukan untuk
meningkatkan penerimaan diri dan tanggung jawab serta membantu konseli
memamndang bahwa sebagaian besar perasaan mereka tentang rasa malu
berkaitan dengan cara mereka mengenali kenyataan. – Use of force and
vigor Ellis menyarankan penggunaan kekuatan dan energi sebagai salah
satu cara untuk membantu konseli berpindah dari berwawasan intelektual
menjadi berwawasan emosional. Konseli juga ditunjukkan caranya melakukan
dialog memaksa diri dimana mereka bisa mengekspresikan keyakinan
irasional dan kemudian mempertanyakan keyakinan tersebut. Konselor akan
melakukan permainan peran terbalik dengan secara keras berpegang teguh
pada filosofi pengalahan diri konseli. Selanjutnya konseli diminta untuk
memperdebatkan dengan konselor dalam upaya untuk membujuknya
meninggalkan gagasan disfungsional tersebut. c. Teknik-teknik
Behavioristik Dalam teknik ini konselor menggunakan prosedur behavioral
standar, seperti pengkondisian operant, prinsip manajemen diri,
desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, dan permodelan.
G. Hasil-Hasil Penelitian
Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Rational
Emotive Behavior Therapy adalah sebagai berikut. 1. Penelitian yang
dilakukan oleh Tayabeh Najafi, Shahrir Jamaluddin, dan Diana
Lea-Baranovich yang berjudul “Effectiveness of Group REBT in Reducing
Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in
Kuala Lumpur” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Rational Emotive Behavior Therapy dalam seting kelompok dapat menurunkan
kepercayaan irasional pada dua kelompok remaja iran yang hidup di kuala
lumpur. 2. Penelitian yang dilakukan oleh G. Venkatesh Kumar yang
berjudul “Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on
Adolescents with Conduct Disorder (CD)” pada tahun 2009. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dapat
mengatasi perilaku bermasalah pada remaja. 3. Penelitian yang dilakukan
oleh Christos Papalekas yang berjudul “The effects of Rational and
Irrational beliefs in determining unhealthy anger and anger functional
and dysfunctional inferences” pada tahun 2011. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa keyakinan rasional dan irasional dapat menentukan
kemarahan yang tidak sehat dan kemarahan fungsional dan disfungsional.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Fryer yang berjudul “Putting
the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in Rational
Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?”
pada tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor adalah adalah
teknik yang baik dan efektif digunakan dalam psikoterapi pada umumnya
dan Rational Emotive Behavior Therapy pada khususnya. 5. Penelitian yang
dilakukan oleh Zakiah Muhamad yang berjudul “Rational Emotive Behavior
Therapy: To Reduce Emotional Disturbance” pada tahun 2012. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Sesi konseling yang telah dilakukan sangat
berguna untuk konseli. Konselor menggunakan teori Rational Emotive
Behavior Therapy cocok untuk memecahkan masalah konseli yang mengalami
gangguan emosional. Kesimpulan dari teori ini ditemukan cocok sebagai
terapi singkat dan mudah digunakan karena sederhana dan berlaku untuk
berbagai pengaturan, termasuk sekolah dasar dan menengah. Seperti kita
ketahui, remaja dan siswa selalu memiliki keyakinan irasional ketika
sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup mereka. Terapi ini juga cepat
mengajarkan konseli bagaimana mengatasi masalah praktis kehidupan.
Konseli diajarkan untuk memahami diri mereka sendiri, untuk memahami
orang lain, untuk bereaksi secara berbeda, dan untuk mengubah pola
kepribadian dasar dan filosofi mereka dengan memperbaiki pemikiran yang
salah.
H. Kelemahan dan Kelebihan
1. Kekuatan
a. Pendekatan ini jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan
konseli hanya mengalami sedikit kesulitan dalam mengalami prinsip
ataupun terminologi Rational Emotive Behavior Therapy. b. Pendekatan ini
dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya
untuk membantu klian mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh
lagi. c. Pendekatan ini relatif singkat dan konseli dapat melanjutkan
penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu. d. Pendekatan ini telah
menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk konseli dan konselor.
Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi
seperti ini. e. Pendekatan ini terus-menerus berevolusi selama
bertahun-tahun dan teknik-tekniknya telah diperbaiki. f. Pendekatan ini
telah dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental parah
seperti depresi dan kecemasan
2. Kelemahan
a. Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu
yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia,
dan mereka yang mempunyai kelainan pemikiran yang berat. b. Pendekatan
ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak
individu yang mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari
keeksentrikan Ellis. c. Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuat
konselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat konseli
seideal yang semestinya. d. Pendekatan yang menekankan pada perubahan
pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu konseli
mengubah emosinya.
Daftar Pustaka
Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA : Thomson Brooks/Cole.
Dryden, W. & Branch, R. 2008. The Fundamentals of Rational Emotive
Behaviour Therapy : A Training Handbook. USA : John Wiley & Sons,
Ltd.
Dryden, W. & Neenan, M. 2006. Rational Emotive Behavior Therapy :
100 Key Points & Techniques. London & New York : Routledge
Taylor & Francis Group
Ellis, A. 2002. Overcoming Resistance : A Rational Emotive Behavior
Therapy Integrated Approach. New York : Springer Publishing Company,
LLC.
Ellis, A. & Dryden, W. 1997. The Practice of Rational Emotive Behavior Therapy. New York : Springer Publishing Company
Flanagan, S. J., & Flanagan, S. R. 2004. Counseling and
Psychotherapy Theories in Context and Practice. New Jersey : John Wiley
& Sons, Inc.
Froggatt, W. 2005. A Brief Introduction To Rational Emotive Behaviour
Therapy. Journal of Rational-Emotive and Cognitive Behaviour Therapy, 3
(1): 1-15.
Fryer, D. 2011. Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of
humour in Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an
amusing aside?. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) :
63-72.
Kumar, G. V. 2009. Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT)
on Adolescents with Conduct Disorder (CD). Journal of the Indian Academy
of Applied Psychology, 35 : 103-111.
Muhamad, Z. 2012. Rational Emotive Behavior Therapy :To Reduce Emotional
Disturbance. Journal of Educational Psychology & Counseling, 6 :
119-122.
Najafi, T., Jamaluddin, S., & Lea-Baranovich, D. 2012. Effectiveness
of Group REBT in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian
Female Adolescents Living in Kuala Lumpur. Interdisciplinary Journal of
Contemporary Research in Business, 3 (12) : 312-322.
Papalekas, C. 2011. The effects of Rational and Irrational beliefs in
determining unhealthy anger and anger functional and dysfunctional
inferences. The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 7-30.
Sharf, R. S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling: Concepts and Cases. USA : Brooks/Cole.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar