Kamis, 06 Oktober 2016

KITA BERAGAMA SEPERTI TAK MARDEKA

KITA BERAGAMA SEPERTI TAK MARDEKA
(Kabid PTKP Kom.FIISI IAIN Mataram)

Sebuah wacana yang dihadirkan atas dasar keresahan yang terjadi di bumi nusantara. Sebagai bangsa yang kuat akan taradisi keagamaan, tradisi spritual seharusnya mencerminkan sikap toleransi yang tinggi sebagai bentuk pemahaman keragaman dan keharmonisan. Namun, apakah identitas kepercayaan dan identitas agama serta keyakinan kita sudah seharusnya "Mardeka"?. Dari uraian singkat ini penulis ingin memaparkan keresahan yang bergejolak dalam batin sebagai bentuk 'perlawanan' kenyataan keagamaan di negri ini.

Indonesia memiliki enam agama yang diakui oleh negara namun masih banyak kepercayaan-keprcayaan keagamaan lain yang belum diakui oleh negara. islam sebagai agama terbesar memiliki nilai toleransi yang begitu tinggi seperti yang termaktub dalam al-Qur'an surah al-Kafirun ayat 5, "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku". dasar inilah yang menjadikan nilai Rahmatan lil alamin dalam konsep Islam menjadi pengayom kepercayaan dari agama lain bisa terlindungi dalam kerukunan dan keberagamaan. 

secara faktual akhir-akhir ini kita banyak melihat  kepercayaan "aliran kepercayaan" muncul sebagai tendensi keberagamaan yang menghadirkan realita spiritual yang kaya akan persepsi positif maupun negatif dari kalangan mayoritas. praktik ajaran yang tidak sesuai dengan persepsi dan doktrin ajaran mayoritas cenderung dinilai menyimpang "sesat" dari lembaga tertinggi pemuka agama di Indonesia. hal ini menyebabkan kemerdekaan individual secara spiritual diintervensi sebagai bentuk pembelaan "sesat" dari lembaga tinggi keagamaan. Munculnya aliran-aliran keagamaan baru seperti yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan "aliran Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi" yang dinilai sesat oleh fatwa MUI Jawa Timur dan MUI Pusat. banyak dampak yang terjadi seperti keadaan sosial, ekonomi, maupun spiritual para pengikutnya mengalami "kemunduran". 


MUI sebagai lembaga tertinggi pemuka agama Islam seharusnya melihat sesuatu secara objektif dan melalui pendekatan yang berkesinambungan sebagai bentuk pelurusan ajaran yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi, sehingga kebebasan beragama dan berkeyakinan bernilai persuasif dari pada intervensi. hemat penulis, terlalu dini fatwa sesat yang dikeluarkan tanpa ada gerakan dakwah berkesinambungan sebagai bentuk penulusan ajaran yang dilakukan oleh MUI. sebagai lembaga tertinggi pemuka agama sudah sepatutnya memberikan pengayoman terhadap para pengikut ajaran Islam. agar dampak sosial ekonomi yang terjadi tidak begitu besar dan tidak menimbulkan perpecahan serta beban psikologis para pengikut Kanjeng Dimas Taat Pribadi.

dalam tulisan ini juga penulis ingin mengajak kepada semua kader Himpunan Mahasiswa Islam agar secara transformatif melakukan gerakan dakwah, sehingga tanggungjawab sebagai kader umat dan kader bangsa bisa memberikan pencerahan masyarakat Indonesia dan muslim khususnya. akhir kata semoga tulisan ini bermanfaat.

Senin, 13 Juni 2016

“Ada HMI dibalik Perjuangan dan Sejarah Bangsa”

M.Nanang Ardiansyah

Himpunan Mahasiswa Islam atau yang biasa disingkat HMI merupakan suatu organisasi mahasiswa yang dibentuk pada 5 Februari 1947 diprakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk di tingkat I. Lafran Pane merupakan seorang pemuda yang lahir di Sipirok Tapanuli Selatan, Sumatra utara. Pemuda lafran pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalisme muslim pernah mengenyam di pendidikan pesantren, ibtidaiyah, wusta dan sekolah muhamadiyah, Adapun latar belakang pemikiran dalam pendirian HMI adalah : "Melihat dan menyadari bahwa kehidupan manusia dan mahasiswa yang beragama islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya.” Selain itu, pada waktu itu, belum ada organisasi mahasiswa islam yang dapat menjadi wadah bagi persatuan mahasiswa Islam Indonesia untuk turut aktif berkonribusi bagi bangsa.

HMI berdiri pada saat Indonesia sedang berada pada awal kemerdekannya, maka organisasi ini turut aktif mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat. Pemikiran yang di usung oleh HMI antara lain mempertahankan NKRI dan juga  meningkatkan derajat rakyat Indonesia di dunia internasional, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama islam.
Dalam Perkembangannya HMI mengalami berbagai fase, mulai dari perkembangan hingga tantangan seperti fase konsilidasi perkembangan spiritual (1946 - 1947), fase pengkokohan (5 febuari 1947 – 30 november 1947) yaitu selama kurang lebih 9 (Sembilan) bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI barulah berakhir. Masa Sembilan bulan itu di pengaruhi untuk menjawab berbagai reaksi dan tantangan yang datang silih berganti, yang kesemuanya itu saling mengokohkan eksistensi HMI sehinga dapat berdiri tegak dan kokoh. Selanjutnya adalah fase Perjuangan Bersenjata (1947-1949) yakni seiring dengan tujuan HMI yang di gariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelangangan pertempuran melawan agresi yang di lakukan oleh belanda, membantu pemerintah baik memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai setaff, penerangan, penghubung. Selanjutnya adalah Fase pertumbuhan dan perkembangan HMI (1950-1963) yakni masa selama para kader HMI yang terjun ke gelengang pertempuran melawan pihak pihak aggressor, selama itu pula pembina organisasi terabaikan.namun hal seperti itu di lakukan secara sadar, karena itu semua meliarisir tujuan dari HMI sendiri serta dwi tugasnya yakni tugas agama dan tugas bangsa.
Fase tantangan (1964-1965) yaitu masa dimana HMI harus menghadapi tantangan ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan dendam sejarahnya begitu bersemangat ingin membubarkan HMI. Hingga akhirnya usaha-usaha yang gigih dari kaum komunis dalam membubarkan HMI ini ternyata tidaklah menjadi kenyataan, dan sejarahpun telah membeberkan dengan jelas siapa yang kontra revolusi. Hingga pada puncak aksi pemberontakan PKI pada tanggal 30 september 1965 telah membuat PKI sebagai salah satu organisasi terlarang. Dan yang terakhir adalah Fase kebangkitan HMI sebagai pelopor orde baru (1966-1968) dimana HMI berperan sebagai sumber insani bangsa yang dimana turut melopori orde Baru.
Bahkan hingga saat ini HMI terus bertahan sebagai salah satu organisasi ekstra mahasiswa yang berada di berbagai Perguruan tinggi di Indonesia dan terus aktif melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat baik bagi anggotanya maupun bagi masyarakat luas, seperti dengan melakukan berbagai diskusi baik dalam intra maupun ekstra kampus,serta kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya.selain itu turut aktif  sebagai pelopor perubahan dan berpatisipasi dalam pembangunan Sumber daya manusia di daerah maupun tingkatnya Nasional. Di IAIN Mataram sendiri, terdapat beberapa komisariat HMI, seperti komisariat FIISI (Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Islam) gabungan antara fakultas Dakwah dan Komunikasi dan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, serta Komisariat Tarbiah. Berbagai mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan ini secara aktif juga bersama-sama melakukan berbagai kegiatan seperti seperti diskusi ilmiah dan kegiatan lainnya yang meningkatkan potensi akademik,sosial,emosional maupun spiritual, serta juga menjalin hubungan dengan cabang HMI  serta organisasi kemahasiswaan maupun kepemudaan di Intra maupun Extra kampus di IAIN Mataram.
Sepanjang perjalanannya, HMI juga tentu saja telah banyak melahirkan berbagai tokoh penting di Indonesia antara lain seperti  Hidayat Nur Wahid, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla,Munir SH, Ichlasul Amal, Yahya Muhaimin,Anies Baswedan, serta juga tokoh perjuangan yang membawa perubahan yang besar bagi Indonesia M. Amien Rais. Beliau merupakan sala satu tokoh yang berkontribusi cukup besar dalam menurunkan Rezim Soeharto yang otoriter serta membawa demokrasi yang lebih baik bagi bangsa Indonesia (orde reformasi). Saat ini merupakan giliran kita para mahasiswa generasi penerus bangsa untuk melanjutkan perjuangan mereka. Perjuangan kita saat ini tidaklah seberat dahulu kawan. Kita tidak perlu lagi mengangkat senjata utuk mempertahankan kemerdekaan seperti yang dilakukan oleh para pahlawan kita.  Oleh karena itu lah kita harus menghargai usaha mereka tersebut dengan terus belajar, meraih ilmu sebanyak-banyaknya, mengembangkan berbagai potensi diri, terus mencetak prestasi sehingga kedepannya kita dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia kita tercinta ini. Mahasiswa Indonesia bisa,IAIN Mataram Muda Bisa, Untuk Indonesia yang lebih baik.

HIDUP IAIN MATARAM , HIDUP NTB , HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!