Minggu, 12 Oktober 2014

pendekatan terapi islam



MAKALAH
DASAR-DASAR PEMELIHARAAN ROHANI ISLAM
PENDEKATAN TERAPI ISLAM

Oleh:
Moh.nanang Ardian
Dedi martamulya
Masnah
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
IAIN MATARAM
2014/2015



Kata pengantar
Asalamualaikum wr.wb
            Segala puji kepada tuhan semesta alam ,Allah azzawajallah,yang telah memberikan nikmat kesehatan kepada kami ,sehingga makalah ini dapat kami selesaikan walaupun jauh dari kata sempurna.
salam dan salawat semoga tercurah kepada junjungan kita ,Nabi Muhammad SAW.yang telah membawa kita di alam yang terang benderang ,keluar dari kejamnya peradapan jahiliah.semoga perjuangan beliau dapat kita internalisasikan di dalam kehidupan kita seharu-hari.
Alhamdhulillah ,makalah yang kami buat dengan Judul,Pendekatan terapi islam,dapat teselesaikan,walaupun masih banyak kekurangan .pendekatan terapi islam yang kami angkat pada makalah ini adalah dilihat dari berbagai aspek,yaitu pendekatan iman,ibadah,sufistik,doa dan zikir,serda beberapa contoh kasus dan cara penanganannya.
Makalah yang kami buat ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas,Dasar-dasar pemeliharaan rohani islam,dan juga untuk memberikan pengetahuan kepada diri kami maupun pembaca agar menyadari betapa besar kekuatan spiritual,dapat digunakan sebagai terapi di kehidupan ini.dan itulah nikmat yang sangat besar dan sepatutnya kita sukuri.
Kami menyadari,makalah ini jauh dari kata sempurna,untuk itu kritik ,saran serta perbaikan dari pembaca sangat kami harapkan.

Wabillahi taufik wal hidayah
Asalamualaikum wr,wb





Daftar Isi
COVER......................................................................................................................1
Kata Pengantar...........................................................................................................2
Daftar isi.....................................................................................................................3
BAB I
PEDAHULAN..........................................................................................................4
A.Latar belakang.........................................................................................................4
B.Rumusan masalah....................................................................................................5
C.Tujuan Penulisan......................................................................................................5
BAB II
PEMBAHASAN........................................................................................................6
A.Pendekatan iman......................................................................................................6
1.      Terapi iman..................................................................................................................6
2.      Iman sebagai terapi kejiwaan........................................................................................7
B.Pendekatan ibadah...............................................................................................11
C.Pendekatan sufistik..............................................................................................12
D.pendekatan zikir dan do’a...................................................................................19
1.      Do’a..............................................................................................................,,,,,,,,,,,,.19
2.      Zikir ...........................................................................................................................22
BAB III
PENUTUP..................................................................................................................26
A.kesimpulan.............................................................................................................26
Daftar putaka.............................................................................................................27

BAB I
PENDAHULAN

A.Latar Belakang
Dalam zaman modern seperti sekarang ini simbol-simbol zaman modern seperti yang diterapkan oleh peradaban kota tumbuh sangat cepat, jauh melampai kemajuan manusianya, sehingga kesenjangan antara manusia dan tempat dimana mereka hidup menjadi sangat lebar. Kesenjangan itu melahirkan problem kejiwaan, dan problem itu menggelitik pertanyaan tentang jati diri manusia. Sepanjang sejarah kemanusiaan, manusia adalah makhluk makhluk yang bisa menjadi subyek dan objek sekaligus (Burhani, 2002 : 166).
Manusia modern idealnya adalah manusia yang berfikir logis dan mampu menggunakan berbagai teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dengan kecerdasan dan bantuan teknologi, manusia modern mestinya lebih bijak dan arif, tetapi dalam kenyataannya banyak manusia yang kualitas kemanusiaan lebih rendah dibanding kemajuan berpikir dan teknologi yang dicapainya. Akibat dari ketidakseimbangan ini kemudian menimbulkan gangguan kejiwaan (Burhani, 2002 : 167).
Orang yang sedang mengalami kegelisahan, sudah sewajarnya untuk kembali kepada ajaran Islam. Psikoterapi Islami dengan menggunakan dasar pijakannya dari nilai-nilai dan ajaran agama Islam, tidak hanya ditujukan untuk mengobati penyakit kejiwaan dalam kriteria mental – psikologis – sosial, tetapi juga memberikan terapi kepada orang-orang yang “sakit” secara moral dan spiritual. Dengan demikian psikoterapi Islam dengan cakupan yang lebih luas dapat mengantisipasi permasalahan kejiwaan manusia modern, baik dalam segi kejiwaan itu sendiri maupun segi moral-spiritual.
Secara umum psikoterapi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang baik itu emosi, mental, pengetahuan dan pemahaman diri dan perubahan tingkah laku. Maka psikoterapi Islampun secara umum bertujuan mengeksploitasi diri dan memahami diri sebagai makhluk berkepribadian, sebagai makhluk bersosial dan sebagai makhluk yang menghambakan diri kepada Allah SWT., sehingga akan terjadi perubahan tingkah laku yakni kondisi psikis yang tercermin dalam sikap yang sehat dan dinamis menuju kepada ketenangan, ketentraman dan kebahagian dalam kesehaatan sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam sebagai upaya meraih Ridha Allah SWT (Prawita, 2002 ; 7-9)

B.Rumusan Masalah
1.      Apa yang itu pendekatan terapi iman dan bagaimana penanganan permasalahan iman serta apa yang harus dilakukan dalam penyelesaian masalahannya ?
2.      bagaimana pendekatan ibadah dalam menyelesaikan permasalahan dalam diri dan apa yang haru dilakukan dalam pemasalahan itu ?
3.      apa peranan pendekatan sufistik dalam terapi islam dan bagaimana solusi peningkatan kualitas ahlak dalam diri ?
4.      bagaimana doa dan zikir dapat menjadi terapi dalam diri dan apa yang yang harus dilakukan dalam proses penyembuhan ?

C.Tujuan Penulisan.
1.      Memempelajari serta mencari tahu ,bagaimana pendekatan terapi dalam islam.
2.      Menambah wawasan serta pengetahuan di bidang pendekatan terapi ikan salah islam.
3.      Menyelesaikan salah satu tugas ,dasar- dasar pemeliharaan rohani islam.













BAB II
PEMBAHASAN
A.Pendekatan Iman
1.Terapi iman
Istilah terapi atau pengobatan dalam Islam disebut tahaibun. Istilah thaibun nabawi berasal dari bahasa Arab yang berarti pengobatan dengan mengikuti metode nabi Muhammad SAW. Metode ini sangat luar biasa dan canggih, lebih hebat dari metode pengobatan saat sekarng ini yang mengandalkan akal semata, yaitu :Memahami hakikat kejadian manusia
Manusia diciptakan Allah SWT, ciptakan terdiri dari empat unsur lahir (angin, air, api, dan tanah) serta empat unsur batin (ruh, akal, nafsu, dan jasad). Keempat unsur itu wajib doberi makan agar kita tetap sehat wal afiat.
Iman adalah ‘itiqat, aqidah yang mantap, keyakinan yang mutlak kepada keesaaan Tuhan, iman itu sering naik turun (yazid wa yanqus). Iman dapat menyehatkan mental karena iman itu manjadi pengendali sikap, ucapan, tidakan, dan perbuatan. Yang mana jika tanpa adanya kendali itu orang-orang akan mudah melakukan hal-hal yang merugikan dirinya atu orang lain dan dapat menimbulkan penyesalan dan kecemasan yang akan menyebabkan terganggunya kesehatan jiwa. Iman dapat menyehatkan karena iman itu menjadi pengendali sikap, ucapan, tindakan, dan perbuatan. Tanpa kendali tersebut maka orang akan mudah melakukan hal-hal yang merugikan dirinya atau orang lain dan dapat menimbulkan penyesalan dan kecemasan yang akan menyebabkan terganggunya kesehatan jiwa.
Islam adalah syariat lahir atau fiqih (paham) yang tertulis dalam Al Qur’an dan Hadis, yang wajib diamalkan oleh umat islam sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan Rasullah SAW kepada para sahabat lalu diturunkan kepada tabi’in lalu ditunkan kepada tabi’ut tabi’in hingga sampai kepada kita secara turun-temurun. Menurut Abdul Mujib, realisasi motode islam ini dapat membentuk kepribadian muslim yang mendorong seseorang untuk hidup bersih, suci dan dapat menyesuaikan dari dalam setiap kondisi, yang mana kondisi ini merupakan syarat mutlak bagi terciptanya kesehatan mental.

Kepribadian dalam Islam akan menciptakan kesehatan mental karena mencerminkan 5 karakter Muslim:
·        Karakter syahadatain, yaitu karakter yang mampu menghilangkan dan membersihkan diri dari segala belenggu atau dominasi tuhan-tuhan temporal dan relatif seperti materi dan hawa nafsu. Selain itu karakter syahadatain juga menghendaki individu untuk selalu cinta dan mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangannya
·        Karakter Mushalli, yaitu karakter yang mampu berkomunikasi dengan Allah (ditandai dengan takbir) dan dengan sesama manusia (ditandai dengan salam). Karakter mushalli menghendaki adanya kebersihan dan kesucian lahir yang diwujudkan dalam
·        Karakter Muzakki, yaitu karakter yang berani mengorbankan hartanya untuk kebersihan dan kesucian jiwa , serta untuk pemerataan kesejahteraan umat pada umumnya. Karakter Muzakki menghendaki adanya pencarian harta secara halal dan mendsitribusikannya secara halal pula. Ia menuntut adanya produktivitas dan kreativitas.
·        Karakter Sho’im, yaitu karakter yang mampu mengendalikan dan menahan diri dari nafsu-nafsu rendah, seperti menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual pada waktu, tempat yang dilarang.
·        Karakter Haji, yaitu karakter yang mau mengorbankan harta, waktu bahkan nyawa demi memenuhi panggilan Allah.

2.Iman sebagai terapi kejiwaan
1.      Rabunullah
 Rabunullah diartikan; 1.hanya kepada Allah saja manusia mengabdi (menyembah) kepada-Nya dan Dia-lah tempat bersandar.2.tidak ada yang dapat memberikan balasan kepada seseorang kecuali: Dia, karena tidak ada yang dipandang dan ditakuti selain Allah. 3.Rabunullah: berarti bahwa setiap yang muncul, setiap takdir dan pikiran menghadap kepada-Nya, mengharapkan ridha-Nya. 4. Rabunullah: berarti bahwa setiap benda dan apa saja yang ditemukan dalam alam tergantung kepada Allah.
Lima dampak yang positif dari Rabunullah (iman dan yakin) yang merupakan motor dalam perjuangan menghadapi tantangan, yakni:
  1. Memberantas rasa takut.
  2. Menghilangkan semangat duka cita.
  3. Mempunyai semangat pengharapan (optimisme).
  4. Meyakini Allah menjadi pelindung.
  5. Sukses dalam mencapai cita-cita.
  6. Melenyapkan kepercayaan kepada keuasaan benda.
  7. Menanamkan semangat berarti menghadapi tantangan.
  8. Menanamkan self help dalam kehidupan.
  9. Membentuk kehidupan yang baik.
Imam Ali as berkata, “Jangan engkau buat ilmu menjadi kebodohan, dan keyakinanmu menjadi keraguan. Jika engkau mengetahui, lakukanlah; jika engkau yakin, majulah.
  1. Memahami Konsep Al ‘Awwal Wa Al’ Akhir
Allah SWT tidak terikat oleh ketentuan waktu. Allah tidak berada di dalam waktu dan tidak pula terikat oleh waktu seperti kita. Bagi Allah SWT tidak ada siang ataupun malam, tidak ada masa kini ataupun masa lalu dan tidak ada pula waktu kemudian. Allah tidak berubah, tidak menua, tidak membesar, dan tidak berkesudahan.
Dzat yang “Awal dan Akhir”, ke-awal-an yang dimaksud bukanlah ke-awal-an yang temporal (zamaniyyah), dan ke-akhir-an bukan juga ke-akhir-an yang temporal.
Bagi Allah SWT tidak ada soal “sebelum” dan “sesudah”, karena waktu dan alam semuanya adalah ciptaan-Nya. Keberadaan Allah sebelum keberadaan makhluk ciptaan-Nya dan Allah tetap kekal setelah semua makhluk ciptaan-Nya punah. Allah ada sebelum adanya waktu dan sesudahnya, karena Allah berada di luar waktu, dan ke-awal-an serta ke-akhir-Nya sama sekali tidak temporal.
Allah hidup dalam “ke-kini-an Ilahi” dan kehadiaran-Nya adalah kekal sormadiy (abadi), sedangkan kita adalah hidup dalam “kemarin”, “kini” dan “esok”.
Kisah sejarah dan semua cakupannya yang terdiri dari seluruh peristiwa beserta rincian dan rangkaiannya di sisi Allah SWT merupakan suatu totalitas (mujmal) yang telah tersurat di dalam ummul kitab.
Ketika Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa a.s (QS. Ibrahim: 5):
Artinya: “…. Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. ….”
Bagi Allah, masa mendatang adalah sesuatu yang telah terjadi dan usai di dalam pengetahuan-Nya. Karena itu kita temukan firman-firman Allah SWT dalam Al Qur’an menggunakan FI’il Madhiy (kata kerja masa lampau – past tense dalam bahasa Inggris) dalam pemberitaan-Nya mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada hari kiamat, padahal terjadinya peristiwa-peristiwa itu ada di masa mendatang.QS. Az-Zumar: 68 :Artinya: “dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi ….. “QS. Al-Kahfi: 99 :
. “….. kemudian ditiuplah sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”
Dari berbagai rahasia yang diungkapkan Al Qu’an kita dapat memahami Allah telah menetapkan waktu yang berbeda-beda bagi setiap jenis makhluk ciptaan-Nya. Waktu sehari bagi malaikat Jibril yaitu malaikat yang terbesar dan terkemuka, sama dengan lima puluh ribu tahun bagi kita. Hal itu dapat kita ketahui dari isayarat yang diberikan Al Qur’an :QS. Al-Ma’rij: 4 :Artinya: “Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam waktu sehari yang kadarnya (sama dengan) lima puluh ribu tahun.
            sehubungan dengna pentingnya makna waktu itu maka manusia bisa mengalami macam-macam kekosongan. Adapun wujud kekosongan itu, ialah:
  1. Kekosongan Akal (Kognitif)
Akal atau pikiran merupakan mutiara yang dimiliki manusia. Manusia tanpa memfungsikan akal untuk mengenak Robbnya. Maka nilainya tidak ubahnya seperti binatang.Sebagaimana firman Allah:
  • QS. Al-Anfal: 22 :Artinya: “Sesungguhnya seburuk-buruk binatang melata dalam pandangan Allah ialah oarng-orang yang pekak dan tuli, yang tidak mau menggunakan akalnya.
2.      Kekosongan Hati (Afektif)
QS. Al-Hujurat: 7 :
Artinya: “…… tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu ……
3.      Kekosongan Jiwa (Mental)
Jiwa ini apabila tidak disibukkan dengan hal positif, ia akan menyibukkan kita dengan kebatilan. Menyibukkan jiwa dengan kebaikan ialah dengan mensucikan, mendidik dan menarik tali kekangnya dari perkara yang batil.
Allah SWT berfirman:QS. Asy-Syams: 9 :
Artinya: “9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
  1. Ridhalah dengan Qadha dan Qadar Allah
Keridhaanmu terhadap qadha dan qadar Allah akan mendatangkan beberapa perkara, di antaranya :
  1. Keimanan terhadap dasar ketuhanaN, dan berpegang teguh kepada kewajiban keimanan, yaitu qadha dan qadar Allah SWT.
  2. Memandang ringan dan mudah segala bentuk kesulitan, dan senantiasa melanjutkan perjalanan di dalam hidup.
  3. Memiliki ketenangan dan kekuatan rohani, dan terbebas dari berbagai kesulitan jiwa.
  4. Dzat Maha Pencipta ridah kepada Anda.
Imam Ali as berkata, “Barangsiapa merasa cukup dengan bagian yang telah Allah berikan kepadanya, maka dia adalah manusia yang paling kaya.

B.Pendekatan ibadah
            Di dalam terapi islam ,pendekatan ibadah, sangatlah penting karena pengaplikasian seluruh bentuk terapi yang islami adalah dengan pendekatan ibadah.ibadah merupakan perwujutan kepatuhan kita terhadap sang pencipta.dengan pengamalan ibadah yang secara istiqomah akan mendatangkan manfat yang sangat besar di dalam tubuh kita.ibadah yang dilakukan sangat banyak sekali baik itu berupa sholat,puasa ,zikir,haji ,maupun ibadah-ibadah yang lain.
            Salah satu terapi ibadah adalah shalat, Sebuah buku karya seorang Guru Besar dari IAIN Sunan Ampel Surabaya berjudul Terapi Shalat Tahajud telah menjadi inspirasi bagi sejumlah orang dalam pengobatan berbagai macam penyakit.  Buku tersebut berasal dari disertasi beliau pada saat menyelesaikan program doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Meskipun isi dan bahasanya sangat berbau akademis dan mungkin agak sulit dipahami orang awam, namun hasil kajian dan pembuktian ilmiahnya cukup memesona untuk dibaca dan diamalkan. Ide brilian yang diangkat dalam penelitiannya yaitu berasal  dari hadis Rosulullah Saw. bahwa ” Shalat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan dan menghindarkan dari penyakit. (HR. Tirmidzi). Beliau menghubungkan antara isi hadis tersebut dengan hasil penelitian bahwa ketenangan dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan.  Sebaliknya, stres dapat menyebabkan seseorang rentan terhadap infeksi, mempercepat perkembangan sel kanker dan meningkatkan metastasis.
Berdasarkan hasil analisis beliau, tidak sembarang orang yang melaksanakan shalat tahajud memperoleh faedah yang bagus untuk kesehatannya karena dalam kenyataannya terdapat sejumlah orang yang terbiasa melaksanakan shalat tahajud namun tetap tidak memiliki kesehatan yang bagus.  Melalui hasil penelitannya disimpulkan bahwa pengamal solat tahajud yang dapat memperoleh faedah positif yaitu mereka yang mengamalkannya dengan ikhlas.  Konsep ikhlas didefinisikan atas paradigma psikobiologi yang merujuk pada teoti GAS, yaitu terpeliharanya homeostatis tubuh setelah subjek menjalankan solat tahajud. Bagi subjek yang normal secara kuantitas tercermin pada terkendalinya sekresi kortisol (hormon stress) dalam rentang 38-690 nmol/L (pagi hari pada pukul 06.00-09.00 wib). Jadi hormon kortisol (hormon yang timbul karena stress) dijadikan sebagai tolok ukur ikhlas tidaknya subjek penelitian pada saat menjalankan solat tahajud. Simpulan dari penelitian beliau menujukkan bukti bahwa solat tahajud dapat menurunkan sekresi hormon kortisol. Penurunan hormon tersebut dipengaruhi oleh pelaksanaan solat tahajud yang tepat, kontinu, khusuk dan ikhlas. Keadaan tersebut menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan memengaruhi coping. Yang dimaksud dengan coping adalah suatu mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Apabila coping berhasil maka seseorang dapat beradaptasi terhadap perubahan  atau akan merasakan beban berat menjadi ringan. Respon emosi positif dan coping yang efektif itulah yang dapat mengurangi reaksi stres sehingga kortisol tidak diproduksi secara berlebihan.
Penelitian di atas adalah salah satu penelitian tentang manfaat suatu ibadah yang dibuktikan melalui cara-cara ilmiah. Sebagai manusia beriman tentu saja dalam melaksanakan sebuah ibadah kita jangan hanya terdorong mau melakukannya setelah terbukti manfaatnya  melalui sebuah riset ilmiah.  Riset ilmiah hanya merupakan sebuah cara manusia untuk menggali tabir yang belum terkuak. Adapun jika hal itu berefek pada bertambhanya keimanan seseorang hal itu adalah hikmah dari sebuah tindakan. Tentu saja langkah tersebut merupakan jalan yang ditunjukkan Allah kepada manusia untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita.
Selain melalui solat tahajud, masih banyak jenis ibadah lain yang dijadikan terapi pengobatan yang bermanfaat untuk kesehatan  oleh sejumlah masyarakat. Terapi air (wudlu), zikir, sodaqoh dan puasa di antaranya. Dalam salah satu ayat dalam Alquran Allah berfirman, “Ingatlah (berzikirlah) kepada-Ku niscaya hatimu akan tenang”. Dengan sangat jelas dalam ayat tersebut Allah  menjamin bahwa dengan berzikir hati kita akan tenang. Ketenangan, menurut penelitian sain seperti yang dijelaskan dalam penelitian tentang manfaat solat tahajud jelas menyebabkan merununkan  hormon kortisol , hormon stres yang merugikan kesehatan.
C. Pendekatan Sufistik/akhlak
Dalam Islam, sebagaimana yang diyakini oleh para sufi, dinyatakan bahwa penyakit itu datangnya dari Allah. Para sufi percaya bahwa kesembuhan juga datang dari Allah, penyembuh (dokter / tabib) adalah seseorang yang menjadi perantara antara Allah dan pasien. Diyakini bahwa seorang syaikh berada pada posisi yang tinggi dan dianggap mempunyai barakah dari sisi Allah. Seorang syaikh bisa membuat saluran terbuka antara Tuhan dan dunia, dan barakah mengalir melalui saluran ini. Dengan mengadakan kontak terhadap wali baik yang masih hidup atau sudah mati, seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah..   Barakah inilah yang dianggap sebagai obat dari segala penyakit.Meskipun mereka juga menggunakan media lain sebagai metode pengobatan seperti makanan/herbal, diet, pijatan dan lain-lain.Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan hadist nabi Muhammad SAW., serta didukung oleh khasanah pemikiran dan peradaban Islam dalam dirinya mengandung fungsi terapi. Untuk itu menjadi beralasan untuk mewujudkan terapi Islami.
Termasuk dalam pendekatan psikoterapi Islami adalah psikoterapi yang berorientasi mistik-spiritual (bisa disebut Psikoterapi Sufi). Psikoterapi Islam (Psikoterapi Sufi) adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit, apakah mental, spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan Al Qur’an dan As sunnah nabi Muhammad SAW. Atau secara empirik adalah melalui bimbingan dan pengajaran Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, Nabi dan Rasul-Nya atau ahli waris para Nabi-Nya.
Ø  Dzikir

Dzikir, kalimat sufi, secara harfiah berarti mengingat. Lagu pengingat, atau lagu cinta menyatukan diri kita dengan asal-usul kita yang tak terbatas. Profesor Angha menggambarkan dzikir sebagai langkah pertama dalam mencinta. Bila kita mencinta seseorang, kita terus-menerus memikirkannya, mengingatnya, dan mengulangi namanya. Umumnya, para sufi mengulangi kalimat tauhid, seperti la ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah) atau Allah Hu (Dialah Yang). Kaimat-kalimat ini diulang terus-menerus dalam nada musikal yang bervariasi.Dzikir dipimpin oleh seorang pelantun yang biasanya melantunkan puisi yang ditulis oleh orang-orang bijak atau pemimpin spiritual dan para pengikutnya bergabung dibagian paduan suara. Lagu-lagu ini diiringi oleh gerakan tubuh dalam simbol infinitas. Bila dzikir terus dilakukan, maka akan tercipta medan elektromagnetik yang kuat dengan penggabungan suara, gerak, dan niat (mengingat yang tercinta), semua berkonsentrasi dalam hati. Gerakan tak terbatas dalam hati dan tubuh bergabung selaras dengan gerakan bumi, sistem matahari, galaksi, dan seluruh alam kosmis.
Dzikir adalah pintu gerbang menuju batas waktu dan ruang menuju dunia yang lebih tinggi. Lagu mengingat ini adalah amalan sufi yang telah dipraktekkan lebih dari 1400 tahun.
Ø  Tafakkur
Sikap hidup kita sebelum ada pikiran, perkataan, dan perbuatan adalah diam. Menenangkan pikiran, merilekskan tubuh dan mencapai pemahaman spiritual dapat diperoleh melalui praktek-praktek konsentrasi dan meditasi yang dapat dilakukan secara mandiri. Tehnik-tehnik ini mengembangkan pola perilaku tidak sadar yang menghasilkan efek-efek positif yang berpengaruh luas pada fungsi-fungsi psikologis maupun fisiologis. Proses penyembuhan adalah penemuan kembali dan penghadiran sumber Ilahi dalam diri, yang merupakan esensi kemanusiaan kita, sumber kebijakan penuh inspirasi, cinta yang menyembuhkan, dan kreatifitas kita yang paling hebat. Kita semua menyadari kehadiran dalam sesuatu yang lebih besar dari diri kita sehari-hari. Masing-masing diri kita menangkap pandangannya meskipun hanya sepintas. Praktek konsentrasi dan meditasi sufi memungkinkan kita untuk membangun hubungan dan menyambungkan kembali diri pada Sumber segala kehidupan.
Meditasi memungkinkan kita berkelana dalam diri untuk bercermin pada identitas sejati kita dan belajar tentang tujuan atau misi kita. Meditasi adalah cara kita mempelajari dan mengembalikan tubuh, mental dan emosional kita dan menemukan diri kita yang sebenarnya.
Agar mencapai kemajuan, kita perlu belajar diam dan membiarkan pikiran kita mendengarkan dan menyerap. Kecuali kita menemukan cara bergerak melampaui batas sehari-hari, kita akan terus terjebak dalam batasan pengalaman fisik dan indera kita.Meditasi adalah jalan menuju kebebasan. Dengan praktek teratur, kita dapat belajar untuk memanifestasikan anugerah kita yang sejati dan merangkul spiritualitas kita dalam kehidupan sehari-hari. Sejak meditasi menjadi mainstream ditahun sembilan puluhan, ilmu ini semakin dikenal sebagai perangkat untuk memperbaiki kesehatan fisik, mental, emosional, juga spiritual
Kedamaian tidak akan bisa ditemukan di luar tubuh kita. Kedamaian akan ditemukan saat kita belajar mengendalikan tubuh fisik, mental, dan emosional kita. Kita hanya perlu belajar untuk tenang, biarkan pikiran kita mendengarkan dan menyerap. Penemuan terbesar kita diperoreh dengan menghentikan apa yang sedang kita lakukan dan belajar untuk duduk tenang dan diam.
Kita belajar untuk menjadi “human beings”dan bukan hanya “human doings.

Ø  Shalat
Hazrat Inayat Khan telah mengatakan, “seorang yang tidak pernah melaksanakan shalat tidaklah memiliki harapan akan perkembangan jalan-jalan yang lainnya, karena setiap postur dalam shalat memiliki suatu makna yang indah dan pengaruh tertentu … shalat ini diperintahkan sebelum meneruskan pengajaran sakral berikutnya. Jika ia gagal mengembangkannya, maka tidak ada harapan baginya akan masa depan”.Shalat dikerjakan dengan melakukan posisi tubuh yang berbeda-beda dan membaca beberapa ayat al-Qur’an pada setiap postur. Dan pada postur-postur ini akan diberikan penjelasan mengenai manfaatnya masing-masing.
Postur Pertama, yaitu postur niat. Pada postur ini kita mengangkat kedua tangan terbuka keatas sampai telinga, dan letakkan ibu jari dibawah daun telinga sambil mengucapkan Allahu Akbar. Pengaruhpengaruh yang menguntungkan yaitu tubuh terasa ringan karena berat badan terbagi pad kedua kaki. Luruskan bagian punggung untuk memperbaiki postur. Pikiran berada dalam keadaan terkendali. Pandangan lurus dengan berpusat pada lantai tempat kepala menyentuh permukaan lantai. Otot-otot punggung sebelah atas dan sebelah bawah dalam keadaan kendur, pusat otak atas dan bawah menyatu untuk membentuk kesatuan tujuan.
Postur Kedua, yaitu postur Qiyam. Kita meletakkan tangan dibawah pusar, tangan kanan berada diatas tangan kiri kemudian membaca surat al- Fathehah dan surat Qur’an lainnya. Pengaruh-pengaruh yang menguntungkan dalam postur ini yaitu; konsentrasi penuh, menyebabkan relaksasi pada kaki dan punggung menggerakkan perasaan rendah hati, kesederhanaan dan ketaatan. Pada pembacaan ayat diatas, seluruh bunyi diucapkan dalam bahasa Arab, yang akan memacu penyebaran seluruh sifat-sifat Allah yang Agung akan derajat yang terkendali secara sempurna di seluruh tubuh, pikiran dan jiwa. Getaran suara vokal panjang a, i dan u akan memacu hati, kelenjar pireal, kelenjar pituitary, kelenjar adreanalin dan pari-paru, serta akan membersihkan dan meningkatkan fungsi seluruh bagian itu.
Postur Ketiga, yaitu postur Ruku’. Pengaruh pengaruh yang menguntungkan; merenggangkan otot-otot punggung sebelah bawah, otot paha serta otot betis secara penuh. Darah akan terpompa keatas tubuh. Menekan otot lambung, perut dan ginjal. Postur ini akan meningkatkan kepribadian, menggerakkan kasih sayang dan keharmonisan pada bagian sebelah dalam.
Postur Keempat, yaitu postur Qauna. Pengaruh-pengaruh yang menguntungkan adalah; darah yang segar tergerak keatas kedalam tubuh pada postur sebelumnya kembali pada keadaannya semula, yang akan mengeluarkan toksin, tubuh akan mengalami relaksasi dan melepaskan semua ketegangan.
Postur Kelima, yaitu postur Sujud. Pengaruh-pengaruh yang menguntungkan adalah; lutut yang membentuk sudut yang tepat akan memungkinkan otot-otot lambung berkembang dan mencegah timbulnya kekenduran pada sekat rongga badan. Meningkatkan aliran darah kedalam bagian tubuh sebelah atas, terutama kepala (termasuk mata, telinga, dan hidung) dan paru-paru, memungkinkan toksin-toksin dagu dapat dibersihkan oleh darah. Mempertahankan posisi tetus yang tepat pada wanita yang sedang hamil. Mengurangi tekannan darah yang tinggi, meningkatkan aktifitas persendian, menghilangkan egoisme dan kesombongan. Meningkatklan kesabaran dan keyakinan kepada Allah SWT. meningkatkan tahap perhentian spiritual dan menghasilkan energi psikis yang tinggi di seluruh tubuh. Postur penyerahan dan kemurahan hati yang tinggi ini merupakan esensi ibadah.
Postur keenam, adalah Qu’ud. Pengaruh-pengaruh yang menguntungkan adalah; bagi laki-laki tumit kaki kanan mengerut dan berat kaki serta bagian tubuh berada pada tumit tersebut.
Posisi ini membantu pengeluaran zat racun dari liver dan memacu gerak peristaltik pada usus besar. Bagi perempuan pertahankan kedua kaki di bawah badannya, telapak kaki menghadap keatas. Tubuh akan kembali mengalami relaksasi yang sama, dan postur ini membantu pencernaan dengan menggerakkan isi perut kearahbawah.

Ø  Al-Quran
Al-Quran sebagai sarana pengobatan sudah termasyhur di kalangan orang Islam, diantara nama-nama lain dari Surah al-Fatihah adalah al-Shifa’ dan al-Ruqyah.
"Kalimat Allah, yaitu ayat-ayat Al Qur'an, mengandung tenaga tak terhingga, tenaga nuklir pun belum apa-apa dibandingkan dengan tenaga llahi ini. Kebesaran dari pada Kalimat-kalimat Allah itu, untuk menyambut dan menghancurkan sekaligus, akan ancaman-ancaman bahaya maut bagi umat manusia seperti tersebut di atas! Kalau bukit-bukit dapat dilebur oleh ayat Al Hasyr 21. Dan kalau bukit-bukit dapat dibelah dengan ayat Ar Ra'du 31, pasti apa saja bisa dilebur oleh Kalimah-kalimah Allah yang Maha Agung, termasuk senjata-senjata atom dan nuklir dari negara-negara super power, sehingga bahaya 'kalimat' yang didatangkan oleh tenaga atom dan nuklir dapat dimusnahkan sama sekali…"
juga Al Quranul Karim dan Kalimah Allah dapat menghancurkan segala macam penyakit yang berat-berat termasuk kanker dan AIDS sesuai dengan QS. Al Israa' ayat 82:”dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”
Praktek menggunakan ayat al-Quran untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit juga dilakukan oleh Muhammad Zuhri, seorang guru sufi, dia bertindak sebagai konselor sebuah yayasan “Barzakh Fondation” yang berlokasi di Jakarta, sebuah yayasan non profit yang memberikan pelayanan gratis terhadap pengidap HIV/AIDS, kanker, sakit jiwa, luekemia, impontensi dll. Terkadang pasien diberikan wifiq (potongan kertas yang berisi ayat-ayat Quran) dengan disertai tata cara penggunaannya.

Ø  Puasa
Puasa merupakan bentuk penyembuhan alamiah yang paling lama dikenal manusia. Metode yang dilakukan berkisar dan tidak memakan suatu jenis makanan tertentu selama periode waktu tertentu yang tidak begitu lama, sampai dengan pantangan secara total terhadap suatu jenis makanan dan minuman selama periode waktu yang lama. Sebagian besar orang barat juga melakukan puasa untuk membersihkan tubuh dan meningkatkan kesehatan namun demikian puasa tersebut tidak dengan tujuan (niat yang tepat), yang kita memulai puasa dengan niat tersebut. Para sufi barangkali banyak memilih pengalaman daripada kelompok lain dalam hal mengerjakan puasa dengan durasi yang berbeda-beda.
Para sufi tidak sekedar mengerjakan prosedur fisik yang berhubungan dengan kesehatan sebagai alasan utamanya, melainkan untuk mendapatkan keridhoan Allah Yang Maha Tinggi. Penyakit seringkali bersumber dari pencernaan nutrien ynag tidak sempurna dalam satu atu beberapa tahap pencernaan selama puasa aktivitas yang biasanya dilakukan selama pencernaan makanan menjadi semakin berkurang, yang akan memberikan kesempatan pada tubuh untuk menghilangkan bahan-bahan yang berlebihan dan memperbaiki kerusakan yang terjadi karena kesalahan pengaturan makanan dalam waktu yang lama.
Apabila hal ini terjadi maka tubuh akan memberikan respon dalam cara- cara khusus. Tindakan pertama yang dilakukan tubuh, apabila diberi kesempatan, adalah membagkitkan panas demam. Jenis panas ini menyebabkan terjadinya proses eliminasi yang sangat cepat (“penghancuran”) terhadap bahan-bahan yang berlebihan, tanpa memperhatikan apa bentuk bahan tersebut. Subtansi-subtansi itu kemudian diolah menjadi bentuk yang dapat dikeluarkan oleh tubuh.
Pengeluaran ini terjadi pada satu (dan kadang-kadang lebih) dari lima jalan, yang disebut lima macam bentuk krisis penyembuhan, yaitu pendarahan pada hidung,

rasa ingin muntah, diare, pengeluaran keringat dan pengeluaran urine.Dengan mengatakan bahwa proses pengeluaran ini terjadi dalam krisis penyembuhan, maksudnya adalah bahwa tubuh mengeluarkan hasil-hasil sampingan yang berlebihan, seringkali berbahaya dan beracun, dari suatu pencernaan yang tidak normal dan kurang sempurna. Krisis penyembuhan dengan pengeluaran urine, tidak sama dengan pengeluaran.
urine yang normal. Volume dan frekuensi pengeluaran urine ini barang kali lima kali lebih tinggi atau bahkan lebih dari pada yang normal selama beberapa jam. Suatu krisis penyembuhan melalui diare biasanya terjadi dari lima belas kali pengeluaran kotoran atau lebih selama beberapa jam.
Memang agak mengherankan, bahwa krisis-krisis penyembuhan ini merupakan kejadian-kejadian ysang dianggap oleh para ahli pengobatan dari barat sebagai gejala penyakit. Akibatnya, segala upaya yang dilakukan untuk menahan dan mengakiri fungsi-fungsi pengeluaran yang normal ini akan menghancurkan mekanisme pembentukan kesehatan yang paling efektif yang terdapat dalam tubuh.
Bentuk-bentuk krisis penyembuhan seperti ini karena selama berpuasa terutama bagi orang-orang yang sebelumnya belum pernah mengerjakan puasa, satu atau beberapa krisis penyembuhan kemungkinan akan terjadi setelah hari ketiga atau keempat (bahkan kadang-kadang dalam beberapa jam). Sakit gejala yang terasa agak berat, barangkali sedikit kenaikan temperatur tubuh atau demam, pengeluaran dan tanda-tanda sejenis menunjukkanbahwa tubuh sedang bergerak dalam modus penyembuhan.
Apabila diare atau rasa ingin muntah mulai terjadi, orang yang tidak mengetahui manfaat atau pengaruh pengaruh puasa barangkali akan menyimpulkan bahwa dia telah terserang flu atau gangguan pernapasan, yang akan menjadi semakin lemah bila berpuasaBanyak orang yang tak mampu menahan rasa yang tidak enak dan kurang menyenangkan seperti ini, dan kemudian mengguanakan bermacam-macam obat kimia, yang sayangnya akan menghilangkan aktifitas penyembuihan tubuh. Hal ini barangkali akan cukup membantu seseorang kembali bekerja, atau mendukungnya untuk melakukan fungsi-fungsi yang penting, tetapi setelah bertahun-tahun terjadi penekanan terhadap proses pengeluaran, maka bahan-bahan yang beracun akan masuk kedalam sistem, sehingga organ mengalami kerusakan dan tak ada lagi harapan untuk mengobatinya. Kecuali dengan cara-cara yang paling drastis. Sekalipun cara tersebut sangat sulit dan bahkan agak mengerikan.
Diperlukan usaha dan sikap disiplin agar dapat berhasil dalam melaksanakan puasa-puasa yang dianjurkan ini. Dianjurkan bagi orang-orang yang belum berpengalaman untuk memulai puasa selama satu hari atau setengah hari, dan secara bertahap melanjutkannya sampai tingkat pelaksanaan yang diharapkan.

Ø  Doa
Do’a adalah berhubungan dengan Tuhan, dengan segenap hati kita, pikiran, tubuh, dan jiwa-memanggil, menginginkan dan mendekatkan diri dengan Yang Tercinta. Selain memanggil Tuhan, kita menemukan harapan dan ketakutan terdalam kita, dengan cara menelanjangi diri kita yang paling intim kepada diri kita sendiri. Ketika kita mulai menyadari bahwa kita tidak terpisahkan dari Tuhan, tapi baru dibawah ilusi perpisahan, kita akan merasakan bahwa doa baru saja terjadi sepanjang hari. Dalam menemukan keilahian kita dan Sang Ilahi, maka hiduplah secara sadar dalam “kehadiran-Nya yang selalu mencinta”, kita akan menjadi anugrah bagi diri kita dan seluruh manusia.

D.Pendekatan zikir dan do’a
           1. Do’a
Penelitian Terapi yang Menggunakan Doa Di San Francisco, AS studi untuk mengetahui efektivitas doa dan zikir dilakukan terhadap 393 pasien jantung. Responden dibagi dalam dua kelompok secara acak.Kelompok pertama memperoleh terapi doa dan zikir, lainnya tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang mendapatkan terapi doa hanya sedikit yang mengalami komplikasi. Sementara pada kelompok yang tidak diberi terapi doa timbul berbagai komplikasi.
Studi terhadap sekelompok orang memperlihatkan bahwa doa secara positif mempengaruhi tekanan darah tinggi, luka, serangan jantung, sakit kepala, dan kecemasan. Subyek‑subyek dalam studi ini mencakup pula air, enzim, bakteri, jamur ragi, sel-sel darah merah, sel-sel kanker, sel-sel pemacu, benih, tumbuhan, ganggang, larva, ngengat, tikus, dan anak ayam; dan di antara proses‑proses yang telah dipengaruhi adalah proses kegiatan enzim, laju pertumbuhan sel darah putih leukemia, laju mutasi bakteri, pengecambahan dan laju pertumbuhan berbagai macam benih, laju penyumbatan sel pemacu, laju penyembuhan luka, besarnya gondok dan tumor, waktu yang dibutuhkan untuk bangun daripembiusan total, efek otonomi seperti kegiatan elektro-dermal kulit, laju hemolisis sel‑sel darah merah, dan kadar hemoglobin.
perlu diingat bahwa akibat yang ditimbulkan oleh doa tidak terpengaruh jarak. Apakah orang yang berdoa berada dekat atau jauh dari dengan organisme (obyek) yang didoakan; penyembuhan dapat berlangsung entah di tempat itu juga atau di tempat lain. Tak ada satupun yang nampaknya sanggyp menghambat atau meng­hentikan doa. Bahkan walaupun "obyek " yang didoakan itu ditempatkan di sebuah ruangan berlapis timah atau ruangan yang tidak bisa ditembus berbagai macam energi gelombang elektromagnetik,‑ toh akibat doa masih bisa menembus
Prof Dr. Zakiah Daradjat, pakar dan praktisi konseling dan psikoterapi Islam, berpendapat bahwa doa dapat memberikan rasa optimis, semangat hidup dan menghilangkan perasaan putus asa ketika seorang menghadapi keadaan atau masalah-masalah yang kurang menyenangkan baginya. Dalam hal ini dia menyatakan:
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, ditemukan aneka ragam cara menghadapi masalah atau keadaan yang kurang menyenangkan. Ada orang yang mudah patah semangat, menyerah kepada keadaan, kehilangan kemampuan untuk mengatasi kesulitan, bahkan menjadi putus asa dan murung. Misalnya orangyang ditimpa suatu penyakit yang membahayakan, seperti penyakit jantung, kanker, lever dan sebagainya. Orang yang lemah semangat hidupnya, akan tenggelam dalam kesedihan, dan membayangkan kematian yang akan segera datang menghampirinya, seolah-olah setiap saat nyawanya akan putus. Orang yang dulu kuat bersemangat, kini menjadi lemah tak berdaya, sedih dan takut menghadapi maut yang terasa mengintip-intip kesempatan untuk menerkam dirinya.
Obat dan nasihat dokter tidak dapat menolongnya dari perasaan duka, kecewa, takut bercampur penyesalan terhada perangai dan ulahnya di masa lalu, karena ia dulu kurang menjaga kesehatan, bahkan kadang‑kadang ia menyesali Allah kenapa tidak meliondunginya dari penyakit. Selanjutnya ketakutan menghadapi maut dihubungkannya dengan azab kubur, neraka dan segala siksa yang ditimpakan kepada orang berdosa di hari kiamat nanti.
Orang yang demikian sering dikatakan kehilangan semangat hidup. Keadaan kejiwaan seperti itu, menyebabkan dirinya menjadi murung, putus asa, sedih dan seolah-olah ia tidak mau berjuang menghadapi penyakitnya.
Bagi orang yang taat beribadah, dan selalu merasa dekat kepada Allah S. W T do'a menjadi penun­jang bagi semangat hidup yang tiada taranya. Ia tidak akanpernah kehilangan semangat hidup, kare­na ia yakin bahwa yang memberi hidup itu adalah Allah, dan tiada
penyakit yang dapat membunuh, jika Allah tidak izinkan, dan ia yakin bahwa tiada perangai manusia dan kekalu tan keadan yang membawa kiamat, bila Allah tidak menghendakinya Jadi do'a amat penting dalam kehidupan manusia, baik mereka yang terbelakang, maupun yang maju. Dan doa adalah penunjang semangat hidup yang amat penting.
D'oa memang penting bagi ketenteraman batin. Dengan berdo'a kita memupuk rasa optimis di dalam diri, serta menjauhkan rasa pesimis dan putus asa. Lebih dari itu semua, do'a mempunyai peranan penting dalam penciptaan kesehatan mental dan semangat hidup. Do'a mempunyai makna penyembuhan bagi stress dan gangguan kejiwaan. Doa juga mengandung manfaat untuk pencegahan terhadap terjadinya kegoncangan jiwa dan gangguan kejiwaan. Lebih dari itu, do'a mempunyai manfaat bagi pembinaan dan peningkatan semangat hidup. Atau dengan kata lain, do'a mempunyai fungsi kuratif, preventif dan konstruktif bagi kesehatan mental (Zakiah, 1992).
Di samping itu doa juga menimbulkan rasa percaya diri (selfconfident) dan optimis (harapan kesembuhan). Ini. merupakan dua. hal yang amat essensial bagi penyembuhan. suatu penyakit, disamping obat‑obatan dan tindakan medis. Dalam hal ini dia menulis sebagai berikut:
Dipandang dari sudut kesehatan jiwa, doa dan dzikir mengandung unsur psikoteraputik Yang men­dalam. Pasikoreligius terapi ini tidak kalah pentingnya diban­dingkan denganpsikoterapipsikia­trik karena ia mengandung kekua­tan spirituallkerohanian Yang membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme (harapan kesembuhan). Dua hal ini, yaitu rasa percaya diri (self konfident) dan optimisme, merupakan dua hal Yang amat essensial bagipenyem­buhan suatu penyakit di samping obat‑obatan dan tindakan medis Yang diberikan (Hawari, 1998: 8).
Menurut Ibrahim Muhammad Hasan al‑Jamal, dengan berdoa orang akan merasakan kehadiran Allah SWT, kedamaian, ketenangan, meninggikan spiritual, dan memperkuat motivasi yang positif disebutkan Dalam bukunya Al‑Istisfa'bi ad­ Do'a sebagai berikut:
Mereka juga mengatakan, "Kalau kita melihat doa secara medis dan dampak positifnya terhadap jiwa, maka kita akan mengetahui bahwa doa sesungguhnya berfungsi untuk mempersiapkan seorang Mukmin yang selalu bisa merasakan keha­diran Yang Mahatinggi Lagi Maha­kuasa di hadapannya. Sehingga dengan doanya dia akan merasa sedang melakukan kontak dengan Dzat Yang apabila menghendaki segala sesuatu hanya mengatakan, 'Jadilah (kamu) maka jadilah ia(kun fayakun). "Selain itu, dia akan dapat merasakan kedamaian dan ketenangan. Diajuga akan dapat merasakan betapa berharganya suatu kenikmatan ketika ia sudah tidak lagi mampu merasakan kenikmatan yang ada di dunia ini. Kesemuanya itu akan dapat memcu meningginya kekuatan nilai­nilai spiritualnya, memperkuat motivasinya dan menjadikan sebab segal ajenis penyaki tjiwa dan syaraf tidak menghinggapinya. "
Sungguh, ucapan adalah modal dasar pengobatan modern untuk menguatkan nilai‑nilai mentalpengi­dap penyakit kefiwaan. Sedangkan doa adalah sarana terpenting untuk itu. Hal itu disebab‑kan karena doa mampu memberikan ilham kepada jiwanya dan karenanyapendoa bisa memperoleh makanan sekaligus obat bagi roh danjiwanya. Selain ity, doa juga sebagai penguat dan pengokoh motivasinya yang positif Sehingga doa dapat menjadikan roh dan jiwa mampu mengalahkan segala apa yang menimbulkan dampak negative terhadapnya. Pada gilirannya nanti roh danjiwa tersebut tidak bisa ditembus oleh sifatputus asa dan tidakpula bisa dicengkram oleh sifat lemah (mudah patah semangat) (Al‑Jamal, 2003)

2.      Zikir
Kehidupan manusia di alam modern ini manusia dilingkari dengan stress, yang dapat menimbulkan reaksi jiwa berupa kecemasan, stress dan bahkan mencapai depresi. Bentuk reaksi jiwa ini pertanda bahwa jiwa seseorang mengalami gangguan (labil), dan apabila berlangsung lama dapat menimbulkan penderitaan batin yang bisa berwujud berbagai bentuk psikosomatik dan neurosis. Kondisi ini akan berimbas pada redupnya motivasi hidup dan harapan kehidupan di masa depan.
Penderita (klien) tersebut alam pikiran maupun perasaan mengalami gangguan, ketidakstabilan, ketidaktenangan, bahkan goncangan sehingga dapat mengganggu fungsi-fungsi organ tubuh klien. 
Oleh karena itu, para ahli kesehatan badan dan jiwa serta psikoterapis seperti Dr. Leon J. Soul, Dr. Yulius Hamian, Dr. Abraham Mayerson mendasarkan pada praktik dan pengalaman sehari-harinya menyimpulkan bahwa “Biang keladi penderitaan tersebut di atas terpusat pada kondisi alam pikiran dan perasaan yang sedang labil negatif.” Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa untuk melakukan penyembuhan tidak lain dengan menciptakan ketenangan, kedamaian, penetralisiran alam pikiran dan perasaannya terlebih dahulu. 
 Usaha psikoterapi dari sudut keagamaan dapat dianjurkan mengingat mayoritas pasien atau klien yang mengalami penderitaan batin akibat depresi adalah orang-orang Islam. Dalam al-Quran dan Hadis dan para pemikir Islam memberikan tuntutan bagaimana agar dalam mengarungi kehidupan ini bebas dari rasa cemas, tegang, konflik, stress maupun depresi, di antaranya dengan memperbanyak zikir dan doa kepada Allah sebagai Yang Maha Penyembuh.
Fatwa Majelis Perkembangan Kesehatan dan Syara’ Departemen Kesehatan RI tentang Sumpah Dokter dan Susila Kedokteran ditinjau dari sisi hukum Islam dalam kutipan Aulia menyatakan “Hendaklah dokter itu mempunyai pengetahuan tentang penyakit pikiran dan jiwa serta obatnya, itu adalah menjadi pokok yang utama dalam mengobati badan manusia. Di antara obat-obat yang sebaik-baiknya untuk suatu penyakit adalah berbuat amal kebajikan, berzikir, berdoa serta memohon dan mendekatkan diri kepada Allah dan bertaubat. Semua ini mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada obat-obat biasa untuk menolak penyakit (penderitaan) dan mendatangkan kesembuhan. Tetapi, semua menurut kadar kesediaan penerimaan batin serta kepercayaannya akan obat kebatinan itu dan manfaatnya”.
a. Pandangan Ulama
Menurut ulama kondang Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad Shalih bahwa zikir itu adalah makanan pokok bagi hati dan ruh. Apabila hamba Allah gersang dari siraman zikir, maka jadilah ia bagai tubuh yang terhalang untuk memperoleh makanan pokoknya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan betapa perlunya seorang mukmin selalu berzikir kepada Allah dalam kondisi apapun agar terpenuhi kebutuhan fundamentalnya sehingga hati dan ruh menjadi segar, sehat dan tenang. Selanjutnya juga dinyatakan bahwa “Zikir itu merupakan sesuatu yang diridhai oleh Allah, menjauhkan diri dari setan, mengikis kesedihan, kesusahan, mendatangkan rezeki, membuka pintu ma’rifah, merupakan tanaman surga, menghindarkan perkataan yang tergelincir, cermin ketaatan, menghidupkan jiwa dan mengobati lemah iman”.
Dengan demikian menurut Imam Husain Azhahiri bahwa “Seseorang di dalam mempertahankan kehidupannya harus memiliki tingkatan keimanan qolbi, seseorang yang memiliki keimanan qolbi akan senantiasa berzikir mengingat Allah dalam situasi apapun dan yakin hanya Allah-lah sebagai pelindung segala kehidupannya. Orang yang memiliki keimanan qolbi akan memiliki kekuatan untuk menghilangkan ketakutan, kesedihan, kecemasan, stress, depresi karena ruhnya tidak ada lagi rasa takut terhadap masa depannya”.
Dari pandangan para ulama tersebut menunjukkan bahwa kegiatan zikir dan doa tidak hanya berdampak pada pembangun akhirat saja, melainkan juga pada pembentukan kualitas umat lahir maupun batin selama menjalani tugas hidup dalam kehidupan ini.

b. Pandangan Para Ahli Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Mental
Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari menyatakan bahwa “Zikir dan Doa dari sudut pandang ilmu kedokteran jiwa atau kesehatan mental merupakan terapi psikiatrik, setingkat lebih tinggi daripada psikoterapi biasa. Hal ini dikarenakan zikir dan doa mengandung unsur spiritual keruhanian, keagamaan, yang dapat membangkitkan harapan dan percaya diri pada diri klien atau penderita, yang pada gilirannya kekebalan tubuh dan kekuatan psikis meningkat sehingga mempercepat proses penyembuhan”.
Dalam hal ini, tentu terapinya juga disertai dengan obat dan tindakan medis lainnya tanpa harus mengabaikannya. Dengan demikian, menunjukkan bahwa terapi medis disertai zikir dan doa merupakan pendekatan holistik di dunia kedokteran modern pada saat ini.
Taufiq Pasiak sebagai seorang ahli kedokteran dan agamawan juga menyatakan bahwa dalam makna sempit zikir dimaksudkan untuk menyebut nama Allah secara berulang-ulang. Bila kegiatan ini dilakukan secara serius, sangat efektif sebagai pereda ketegangan dan kecemasan.
Dr. Ralp Snyderman Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Duke menyatakan, bahwa dalam perawatan kesehatan, ilmu pengetahuan tanpa keruhanian, keimanan, keagamaan (zikir dan doa) tidaklah efektif, artinya terapi medis dan zikir serta doa mesti dilakukan bersama-sama.
Dalam hal ini D.B. Larson dalam kutipan Dadang Hawari menggaris-bawahi bahwa “Komitmen seseorang terhadap agamanya amat penting dalam pencegahan agar seseorang tidak jatuh sakit, meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengatasi penderitaan bila seseorang sedang sakit serta mempercepat penyembuhan selain terapi medis yang diberikan”.
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa dari sudut pandang kesehatan jiwa, doa dan zikir mengandung unsur Psikoterapeutik yang ampuh dan mendalam. Psikoreligius ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan psikoterapi psikiatrik karena ia mengandung kekuatan spiritual, keruhanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan optimis mendalam bagi kesembuhan diri. Kedua hal inilah yang merupakan esensi bagi penyembuhan suatu penderitaan batin baik stress, kecemasan maupun depresi.


c. Hasil Penelitian
Suatu studi yang dilakukan Lin Deu Hal (1970) dan Star (1970) menunjukkan bahwa penduduk yang religius, taat beribadah, berdoa, dan zikir kemungkinan mengalami stress, kecemasan, depresi jauh lebih kecil dibandingkan yang non-religius.
Kemudian hasil penelitian Herbert Benson sebagaimana dikutip Taufiq Pasiak, “Menunjukkan bahwa kata-kata zikir itu dapat menjadi salah satu frasa fokus (kata-kata yang menjadi titik fokus perhatian) dalam proses penyembuhan diri klien dari kecemasan, ketakutan bahkan dari keluhan fisik seperti sakit kepala, nyeri dada dan hipertensi. Apalagi jika frasa fokus tersebut dikombinasikan dengan respon relaksasi dalam diri dapat menghambat kerja sistem syaraf simpatis yang mengatur kecepatan denyut jantung, pernapasan dan metabolisme individu (klien) yang berzikir”.
Cancerellano, Larson dan Wilson (1982) telah melakukan penelitian terhadap pasien/klien yang mengalami gangguan jiwa (neurosis, psikosomatik, psikosis) hasilnya menunjukkan bahwa setelah mereka diikutsertakan dalam kegiatan keagamaan seperti zikir dan doa di samping terapi medis, hasilnya ternyata jauh lebih baik.
Comstock dan kawan-kawan (1972) juga melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa, “Bagi mereka yang melakukan kegiatan keagamaan secara teratur disertai dengan zikir dan doa ternyata resiko kematian akibat penyakit jantung koroner, paru-paru, hepatitis, bunuh diri jauh lebih rendah.”
Pada tahun 1989 Larson dan kawan-kawan melakukan suatu penelitian khusus terhadap pasien/klien hipertensi, diperoleh kenyataan bahwa kelompok yang rajin melakukan kegiatan keagamaan seperti zikir dan doa dapat mencegah dan menetralisir hipertensi, begitu juga penelitian Levin dan Van Der Pool terhadap penderita penyakit jantung dan pembuluh darah hasilnya juga sama.








BAB III
PENUTUP
A.kesimpulan
Secara umum psikoterapi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang baik itu emosi, mental, pengetahuan dan pemahaman diri dan perubahan tingkah laku. Maka psikoterapi Islampun secara umum bertujuan mengeksploitasi diri dan memahami diri sebagai makhluk berkepribadian, sebagai makhluk bersosial dan sebagai makhluk yang menghambakan diri kepada Allah SWT., sehingga akan terjadi perubahan tingkah laku yakni kondisi psikis yang tercermin dalam sikap yang sehat dan dinamis menuju kepada ketenangan, ketentraman dan kebahagian dalam kesehaatan sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam sebagai upaya meraih Ridha Allah SWT
Islam adalah syariat lahir atau fiqih (paham) yang tertulis dalam Al Qur’an dan Hadis, yang wajib diamalkan oleh umat islam sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan Rasullah SAW kepada para sahabat lalu diturunkan kepada tabi’in lalu ditunkan kepada tabi’ut tabi’in hingga sampai kepada kita secara turun-temurunn.realisasi motode islam ini dapat membentuk kepribadian muslim yang mendorong seseorang untuk hidup bersih, suci dan dapat menyesuaikan dari dalam setiap kondisi, yang mana kondisi ini merupakan syarat mutlak bagi terciptanya kesehatan mental.
Dari berbagai pendekatan dalam terpi islam yang telah dipaparkan di atas, bahwasanya ,ibadah yang kita lakukan sehari-hari dalam agama kita islam,merupakan sebuah terapi yang sangat murah untuk meningkatkatkan kesehatan ,baik dari jiwa maupu raga.untu itu marilah kita selalu meningkastkan kualita ibadah kita ,karena dari ibadalah permasalahan–permasalahan dari jwa dan raga ,insyaAllah dapat diatasi .





Daftar Pustaka
Ahmad Najib Burhani, Manusia Modern Mendamba Allah, Renungan Tasawuf Positif, (Jakarta : Mizan Media Utama, 2002)
Jalaluddin, Psikologi Agama, Edisi Revisi, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000)
M. Utsman Najati, Al-Qur’an wa al-Nafs, diterjemahkan oleh : Rof’i Usmani Dengan Judul : Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung : Pustaka, 1997)
Amir Annajar, “Ilmu Jiwa Dalam Tasawuf: ”Studi Komparatif Dengan Ilmu Jiwa Kontemporer”, (Jakarta: Pustaka Azan, 2002)
K. Permadi, Iman & Takwa Menurut Alqur’an, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1995)
Badri, Malik. Tafakur: Perspektif Psikologi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1996)
Daradjat, Zakiah. Islam dan Kesehatan Mental, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1986).
Situs Web;
http// ahmadaziez blogspot.com