SEJARAH PERUMUSAN NDP
Sampai pada fase perjuangan HMI
dalam transisi orde lama dan orde baru, pedoman perjuangan HMI yang mendasar
dan sistematis belum ada, setelah fase berikutnya baru disusun Nilai Dasar
Perjuangan HMI, yang pada Kongres XVI HMI di Padang tahun 1986 pernah berubah
nama menjadi Nilai Identitas Kader (NIK), pada dasarnya tidak ada perubahan
atas isi dari NDP. Perubahan ini didasari atas pertimbangan politik setelah
keluarnya UU No.5 tahun 1985 yang menyatakan bahwa Pancasila satu-satunya azas
organisasi kemasyarakatan. Pada Kongres XXII HMI di Jambi tahun 1999 nama NIK
kembali ditukar menjadi NDP, seirama dengan pertukaran azas organisasi.
Kelahiran NDP dilatarbelakangi
oleh :
1) Keadaan negara
Bangsa Indonesia sekitar
1966-1968 tengah mengalami perbaikan dari segi infra struktur maupun supra
struktur, karena bangsa Indonesia baru dilanda badai pengkhianatan PKI
2) Keadaan umat Islam
Nurkholis Madjid dalam buku HMI
Menjawab Tantangan Jaman mengungkapkan bahwa muslim Indonesia adalah termasuk
yang paling sedikit ter”Arab”kan. Di Indonesia pemahaman Islam masih dangkal,
sehingga masih ada persoalan bagaimana menghayati nilai-nilai Islam itu
sendiri.
3) Antek-antek PKI mempunyai
pedoman yang baik
Untuk memberikan pemahaman
tentang kekomunisan, para kader PKI di masa jayanya (1960-an) mempunyai buku
saku yang bisa dibaca dimanapun dan kapanpun. Melihat keadaan ini timbul
keinginan Cak Nur untuk menyusun dasar-dasar nilai Islam melalui kerangka
sistematis yang kemudia beliau beri nama NDI (Nilai Dasar Islam) dengan tujuan
NDI ini mampu berfungsi sebagai pemahaman global tentang ajaran Islam.
4) Literatur yang tersedia belum
memuaskan
Pada waktu itu para kader HMI
masih jarang sekali menuangkan ide keislaman mereka dalam bentuk tulisan, salah
satu penyebabnya adalah kesibukan melawan PKI secara fisik.
Pada masa kepengurusan Nurkholis
Madjid, HMI berusaha membuat pedoman perjuangan dan pada Kongres X HMI di
Palembang tahun 1971, ditetapkan menjadi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), yang
berasal dari naskah NDI yang disampaikan Cak Nur dalam Kongres IX HMI di Malang
tahun 1969 yang selanjutnya kongres menugaskan kepada Nurkholis Madjid, Sakib
Mahmud, dan Endang Saifudin Anshari (alm.) untuk menyempurnakannya. Pemilihan
nama NDP sendiri memiliki alasan, yaitu (1) Nama NDI terlalu mengklaim Islam
yang bahkan akan mempersimpit ajaran Islam iru sendiri, (2) Terinspirasi oleh
buku “Perjuangan Kita”-nya Syahrir.
Ahmad Wahib dalam buku harian
yang kemudian diterbitkan menjadi buku oleh Johan Effendi dengan tajuk “Pergolakan
Pemikiran Islam” yang dianggap controversial, menuliskan bahwa perumusan NDI
tersebut dipengaruhi oleh perjalanan Nurkholis Madjid ke
universitas-universitas di Amerika atas undangan pemerintah Amerika pada tahun
1968. Hal ini dibantah oleh Cak Nur dalam buku HMI Menjawab Tantangan Jaman,
bahwa sebenarnya perjalanan ke Amerika tidak berpengaruh banyak terhadap
dirinya, karena selain perjalanan ke Amerika, Cak Nur juga melanjutkan lawatan
ke Timur Tengah dengan menggunakan sisa uang saku yang dihematnya waktu di
Amerika. Di Timur Tengah perjalanan dimulai dari Damaskus, Kuwait, Saudi
Arabia, Turki, Lebanon, dan terakhir Mesir. Dalam perjalanan di Timur Tengah
inilah untuk pertama kalinya Cak Nur bertemu Gus Dur, padahal mereka satu
kampung. Di Riyadh Cak Nur bertemu dengan Dr. Farid Mustafa dan mendapat banyak
hal darinya. Selama di Timur Tengah Cak Nur sering mengadakan diskusi kritis
tentang berbagai hal keislaman.
Sepulang Cak Nur dari menunaikan
ibadah haji atas undangan Menteri Pendidikan Arab Saudi (Syekh hasan bin
Abdullah Ali) sekitar bulan April 1969, keinginannya untuk menulis NDI makin
menggebu-gebu.
Kedudukan NDP dalam tubuh HMI
NDP merupakan landasan perjuangan
HMI, dan ini perlu disosialisikan pada setiap kader. Tujuan NDP dalam HMI merupakan
filsafat sosial dalam melakukan perubahan sesuai tujuan HMI. Hubungan NDP dalam
HMI dapat digambarkan sebagai berikut :
Berdasarkan skema tersebut, maka
NDP merupakan filsafat sosial yang bersumber dari ajaran Islam. Filsafat sosial
ini diturunkan menjadi teori-teori sosial yang teori-teori ini akan memberikan
konsepsi yang jelas pada arah gerak perubahan sosial yang dilakukan oleh HMI.
C. Teks NDP
NILAI DASAR PERJUANGAN HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
A. DASAR-DASAR
KEPERCAYAAN
Manusia
memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai
guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna
tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena
kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula
cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan
saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya.
Disebabkan
kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-bentuk
kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk- bentuk
kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua
kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang benar.
Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur
kebenaran dan kepalsuan yang campur baur.
Sekalipun
demikian, kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu melahirkan nilai-nilai.
Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradis-tradisi yang diwariskan turun
temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan
tradisi untuk tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan
nilai-nilai, maka dalam kenyataan ikatanikatan tradisi sering menjadi
penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Disinilah terdapat
kontradiksi kepercayaan diperlukan sebagai sumber tatanilai guna menopang
peradaban manusia, tetapi nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku
dan mengikat, maka justru merugikan peradaban.
Oleh karena itu,
pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus
selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang
tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan
kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai sumber dan pangkal nilai itu haruslah
kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan.
Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.
Perumusan
kalimat persaksian (Syahadat) Islam yang kesatu : Tiada Tuhan selain Allah
mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. Perkataan "Tidak
ada Tuhan" meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan perkataan
"Selain Allah" memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran. Dengan
peniadaan itu dimaksudkan agar manusia membebaskan dirinya dari belenggu
segenap kepercayaan yang ada dengan segala akibatnya, dan dengan pengecualian
itu dimaksudkan agar manusia hanya tunduk pada ukuran kebenaran dalam
menetapkan dan memilih nilai - nilai, itu berarti tunduk pada Allah, Tuhan Yang
Maha Esa, Pencipta segala yang ada termasuk manusia. Tunduk dan pasrah itu
disebut Islam. Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Pendekatan
ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan,
baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi
karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau
sendiri kepada pengertian akan hakekat Tuhan yang sebenarnya.
Namun demi
kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya
tentang Ketuhanan dan tatanilai yang bersumber kepada-Nya. Oleh sebab itu
diperlukan sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak bertentangan dengan
insting dan indera. Sesuatu yang diperlukan itu adalah "Wahyu" yaitu
pengajaran atau pemberitahuan yang langsung dari Tuhan sendiri kepada manusia.
Tetapi sebagaimana kemampuan menerima pengetahuan sampai ketingkat yang tertinggi
tidak dimiliki oleh setiap orang, demikian juga wahyu tidak diberikan kepada
setiap orang. Wahyu itu diberikan kepada manusia tertentu yang
memenuhi syarat
dan dipilih oleh Tuhan sendiri yaitu para Nabi dan Rosul atau utusan Tuhan.
Dengan kewajiban para Rosul itu untuk menyampaikannya kepada seluruh ummat
manusia. Para rosul dan nabi itu telah lewat dalam sejarah semenjak Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa,Isa atau Yesus anak Mariam sampai pada Muhammad SAW. Muhammad
adalah Rosul penghabisan, jadi tiada Rosul lagi sesudahnya. Jadi para Nabi dan
Rosul itu adalah manusia biasa dengan kelebihan bahwa mereka menerima wahyu
dari Tuhan.
Wahyu Tuhan yang
diberikan kepada Muhammad SAW terkumpul seluruhnya dalam kitab suci Al-Quran.
Selain berarti bacaan, kata Al-Quran juga bearti "kumpulan" atau
kompilasi, yaitu kompilasi dari segala keterangan. Sekalipun garis-garis besar
Al-Quran merupakan suatu kompendium, yang singkat namun mengandung
keterangan-keterangan tentang segala sesuatu sejak dari sekitar alam dan
manusia sampai kepada hal-hal gaib yang tidak mungkin diketahui manusia dengan
cara lain. Jadi untuk memahami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaran-Nya,
manusia harus berpegang kepada Al-Quran dengan terlebih dahulu mempercayai
kerasulan Muhammmad SAW. Maka kalimat kesaksian yang kedua memuat esensi kedua
dari kepercayaan yang harus dianut manusia, yaitu bahwa Muhammad adalah Rosul
Allah. Kemudian di dalam Al-Quran didapat keterangan lebih lanjut tentang
Ketuhanan Yang maha Esa ajaran-ajaranNya yang merupakan garis besar dan jalan
hidup yang mesti diikuti oleh manusia. Tentang Tuhan antara lain: surat
Al-Ikhlas menerangkan secara singkat ; katakanlah : "Dia adalah Tuhan Yang
Maha Esa. Dia itu adalah Tuhan. Tuhan tempat menaruh segala harapan. Tiada Ia
berputra dan tiada pula berbapa. Selanjutnya Ia adalah Maha Kuasa, Maha
Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha
Pengampun dan seterusnya daripada segala sifat kesempurnaan yang selayaknya
bagi Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Tuhan seru sekalian Alam.
Juga diterangkan
bahwa Tuhan adalah yang pertama dan yang penghabisan, Yang lahir dan Yang
Bathin, dan "kemanapun manusia berpaling maka disanalah wajah Tuhan".
Dan "Dia itu bersama kamu kemanapun kamu berada". Jadi Tuhan tidak
terikat ruang dan waktu.
Sebagai
"yang pertama dan yang penghabisan", maka sekaligus Tuhan adalah asal
dan tujuan segala yang ada, termasuk tata nilai. Artinya ; sebagaimana tata nilai
harus bersumber kepada kebenaran dan berdasarkan kecintaan kepadaNya, Iapun
sekaligus menuju kepada kebenaran dan mengarah kepada "persetujuan"
atau "ridhanya ". Inilah kesatuan antara asal dan tujuan hidup yang sebenarnya
(Tuhan sebagai tujuan hidup yang benar, diterangkan dalam bagian
yang lain) Tuhan
menciptakan alam raya ini dengan sebenarnya, dan mengaturnya dengan pasti. Oleh
karena itu alam mempunyai eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan
mengikuti hukum-hukum yang tetap. Dan sebagai ciptaan daripada sebaik-baiknya
penciptanya, maka alam mengandung kebaikan pada diriNya dan teratur secara
harmonis. Nilai ciptaan ini untuk manusia bagi keperluan perkembangan
peradabannya. Maka alam dapat dan dijadikan obyek penyelidikan guna dimengerti
hukum-hukum Tuhan (sunnatullah) yang berlaku
didalamnya.
Kemudian manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukumhukumnya sendiri.
Jika kenyataan
alam ini berbeda dengan persangkaan idealisme maupun agama Hindu yang
mengatakan bahwa alam tidak mempunyai eksistensi riil dan obyektif, melainkan
semua palsu atau maya atau sekedar emansipasi atau pancaran daripada dunia lain
yang kongkrit, yaitu idea atau nirwana. Juga tidak seperti dikatakan filsafat
Agnosticisme yang mengatakan bahwa alam tidak mungkin dimengerti manusia. Dan
sekalipun filsafat materialisme mengatakan bahwa alam ini mempunyai eksistensi
riil dan obyektif sehingga dapat dimengerti oleh manusia, namun filsafat itu
mengatakan bahwa alam ada dengan sendirinya. Peniadaan pencipta ataupun
peniadaan Tuhan adalah satu sudut daripada filsafat materialisme.
Manusia adalah
puncak ciptaan dan mahluk-Nya yang tertinggi. Sebagai mahluk tertinggi manusia
dijadikan "Khalifah" atau wakil Tuhan di bumi. Manusia ditumbuhkan
dari bumi dan diserahi untuk memakmurkannya. Maka urusan di dunia telah
diserahkan Tuhan kepada manusia. Manusia sepenuhnya bertanggungjawab atas
segala perbuatannya di dunia. Perbuatan manusia ini membentuk rentetan
peristiwa yang disebut "sejarah". Dunia adalah wadah bagi sejarah,
dimana manusia menjadi pemilik atau "rajanya".
Sebenarnya
terdapat hukum-hukum Tuhan yang pasti (sunattullah) yang menguasai sejarah,
sebagaimana adanya hukum yang menguasai alam tetapi berbeda dengan alam yang
telah ada secara otomatis tunduk kepada sunatullah itu, manusia karena
kesadaran dan kemampuannya untuk mengadakan pilihan untuk tidak terlalu tunduk
kepada hukum-hukum kehidupannya sendiri. Ketidakpatuhan itu disebabkan karena
sikap menentang atau kebodohan. Hukum dasar alami daripada segala yang ada
inilah "perubahan dan perkembangan", sebab : segala sesuatu ini
adalah ciptaan Tuhan dan pengembangan olehNya dalam suatu proses yang tiada
henti-hentinya. Segala sesuatu ini adalah berasal dari Tuhan dan menuju kepada
Tuhan. Maka satu-satunya yang tak mengenal perubahan hanyalah Tuhan sendiri,
asal dan tujuan segala sesuatu. Di dalam memenuhi tugas sejarah, manusia harus
berbuat sejalan dengan arus perkembangan itu menunju kepada kebenaran. Hal itu
berarti bahwa manusia harus selalu berorientasi kepada kebenaran, dan untuk itu
harus mengetahui jalan menuju kebenaran itu. Dia tidak mesti selalu mewarisi
begitu saja nilai-nilai tradisional yang tidak diketahuinya dengan pasti akan
kebenarannya.
Oleh karena itu
kehidupan yang baik adalah yang disemangati oleh iman dan ilmu. Bidang iman dan
pencabangannya menjadi wewenang wahyu sedangkan bidang ilmu pengetahuan menjadi
wewenang manusia untuk mengusahakan dan mengumpulkannya dalam kehidupan dunia
ini. Ilmu itu meliputi tentang alam dan tentang manusia (sejarah). Untuk
memperoleh ilmu pengetahuan tentang nilai kebenaran sejauh mungkin, manusia
harus melihat alam dan kehidupan ini sebagaimana adanya tanpa melekatkan
padanya kualitas-kualitas yang bersifat ketuhanan. Sebab sebagaimana
diterangkan dimuka, alam diciptakan dengan wujud yang nyata dan objektif
sebagaimana adanya. Alam tidak menyerupai Tuhan, dan Tuhan pun untuk sebagian
atau seluruhnya tidak sama dengan alam.
Sikap memper-Tuhan-kan
atau mensucikan (sakralisasi) haruslah ditujukan kepada Tuhan sendiri. Tuhan
Allah Yang Maha Esa. Ini disebut "Tauhid" dan lawannya disebut
"syirik" artinya mengadakan tandingan terhadap Tuhan, baik seluruhnya
atau sebagian maka jelasnya bahwa syirik menghalangi perkembangan dan kemajuan
peradaban, kemanusiaan menuju kebenaran.
Sesudahnya atau
kehidupan duniawi ini ialah "hari kiamat". Kiamat merupakan permulaan
bentuk kehidupan yang tidak lagi bersifat sejarah atau duniawi, yaitu kehidupan
akhirat. Kiamat disebut juga "hari agama", atau yaumuddin, dimana Tuhan
menjadi satu-satunya pemilik dan raja. Disitu tidak lagi terdapat kehidupan historis,
seperti kebebasan, usaha dan tata masyarakat. Tetapi yang ada adalah pertanggunggan
jawab individu manusia yang bersifat mutlak dihadapan illahi atas segala
perbuatannya dahulu didalam sejarah.
Selanjutnya
kiamat merupakan "hari agama", maka tidak yang mungkin kita ketahui
selain daripada yang diterangkan dalam wahyu. Tentang hari kiamat dan kelanjutannya
/ kehidupan akhirat yang non-historis manusia hanya diharuskan percaya tanpa
kemungkinan mengetahui kejadian-kejadiannya.
B.
PENGERTIAN-PENGERTIAN DASAR TENTANG KEMANUSIAAN
Telah disebutkan
di muka, bahwa manusia adalah puncak ciptaan, merupakan mahluk yang tertinggi
dan adalah wakil dari Tuhan di bumi. Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi
manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan
suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus
dimiliki manusia saja yaitu Fitrah.
Fitrah membuat
manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran
(Hanief). "Dlamier" atau hati nurani adalah pemancar keinginan pada
kebaikan, kesucian dan kebenaran. Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang
mutlak atau kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah
merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan
prinsipil membedakannya dari mahluk-mahluk yang lain. Dengan memenuhi hati
nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.
Kehidupan
dinyatakan dalam kerja atau amal perbuatanya. Nilai- nilai tidak dapat dikatakan
hidup dan berarti sebelum menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan amaliah yang
kongkrit. Nilai hidup manusia tergantung kepada nilai kerjanya. Di dalam dan
melalui amal perbuatan yang berperikemanusiaan (fitrah sesuai dengan tuntutan
hati nurani) manusia mengecap kebahagiaan, dan sebaliknya di dalam dan melalui
amal perbuatan yang tidak berperikemanusiaan (jihad) ia menderita kepedihan.
Hidup yang pernuh dan berarti ialah yang dijalani dengan sungguh-sungguh dan
sempurna, yang didalamnya manusia dapat mewujudkan
dirinya dengan
mengembangkan kecakapan-kecakapan dan memenuhi keperluan-keperluannya. Manusia
yang hidup berarti dan berharga ialah dia yang merasakan kebahagiaan dan
kenikmatan dalam kegiatan-kegiatan yang membawa perubahan kearah
kemajuan-kemajuan baik yang mengenai alam maupun masyarakat yaitu hidup
berjuang dalam arti yang seluas-luasnya. Dia diliputi oleh semangatmencari kebaikan,
keindahan dan kebenaran. Dia menyerap segala sesuatu yang baru dan berharga
sesuai dengan perkembangan kemanusiaan dan menyatakan dalam hidup berperadaban
dan berkebudayaan. Dia adalah aktif, kreatif dan kaya akan kebijaksanaan
(widom, hikmah).
Dia
berpengalaman luas, berpikir bebas, berpandangan lapang dan terbuka, bersedia
mengikuti kebenaran dari manapun datangnya. Dia adalah manusia toleran dalam
arti kata yang benar, penahan amarah dan pemaaf. Keutamaan itu merupakan
kekayaan manusia yang menjadi milik daripada pribadi-pribadi yang senantiasa
berkembang dan selamanya tumbuh kearah yang lebih baik.
Seorang manusia
sejati (insan kamil) ialah yang kegiatan mental dan phisiknya merupakan suatu
keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja rohani bukanlah dua kenyataan yang
terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan antara kerja dan kesenangan,
kerja baginya adalah kesenggangan dan kesenangan ada dalam dan melalui kerja.
Dia berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri,menyatakan ke luar corak
perorangannya dan mengembangkan kepribadian dan wataknya secara harmonis. Dia
tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individu dan kehidupan komunal, tidak
membedakan antara perorangan dan sebagai anggota masyarakat, hak dan kewajiban
serta kegiatankegiatan untuk dirinya adalah juga sekaligus untuk sesama ummat
manusia.
Baginya tidak
ada pembagian dua (dichotomy) antara kegiatan-kegiatan rokhani dan jasmani,
pribadi dan masyarakat, agama dan politik maupun dunia akherat. Kesemuanya
dimanifestasikan dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal pancaran niatnya,
yaitu mencari kebaikan, keindahan dan kebenaran. Dia seorang yang ikhlas,
artinya seluruh amal perbuatannya benar-benar berasal dari dirinya sendiri dan
merupakan pancaran langsung dari pada kecenderungannya yang suci yang murni.
Suatu pekerjaan dilakukan karena keyakinan akan nilai pekerjaan itu sendiri
bagi kebaikan dan kebenaran, bukan karena hendak memperoleh tujuan lain yang
nilainya lebih rendah (pamrih). Kerja yang ikhlas mengangkat nilai kemanusiaan
pelakunya dan memberikannya kebahagiaan. Hal itu akan menghilangkan sebab-sebab
suatu jenis pekerjaan ditinggalkan dan kerja amal akan menjadi kegiatan
kemanusiaan yang paling berharga.
Keikhlasan
adalah kunci kebahagiaan hidup manusia, tidak ada kebahagiaan sejati tanpa
keikhlasan dan keikhlasan selalu menimbulkan kebahagiaan. Hidup fitrah ialah
bekerja secara ikhlas yang memancarkan dari hati nurani yang hanief atau suci.
C. KEMERDEKAAN
MANUSIA (IKHTIAR) DAN KEHARUSAN UNIVERSAL (TAKDIR)
Keikhlasan yang
insani itu tidak mungkin ada tanpa kemerdekaan. Kemerdekaan dalam arti kerja
sukarela tanpa paksaan yang didorong oleh kemauan yang murni, kemerdekaan dalam
pengertian kebebasan memilih sehingga pekerjaan itu benar-benar dilakukan
sejalan dengan hati nurani. Keikhlasan merupakan pernyataan kreatif kehidupan
manusia yang berasal dari perkembangan tak terkekang daripada kemauan baiknya.
Keikhlasan adalah gambaran terpenting daripada kehidupan manusia sejati.
Kehidupan sekarang di dunia dan abadi (external) berupa kehidupan kelak sesudah
mati di akherat. Dalam aspek pertama manusia melakukan amal perbuatan dengan
baik dan buruk yang harus dipikul secara individual, dan komunal sekaligus.
Sedangkan dalam aspek kedua manusia tidak lagi melakukan amal perbuatan, melainkan
hanya menerima akibat baik dan buruknya dari amalnya dahulu di dunia secara
individual. Di akherat tidak terdapat pertanggung jawaban perseorangan
(mutlak). Manusia dilahirkan sebagai individu, hidup ditengah alam dan
masyarakat sesamanya, kemudian menjadi individu kembali.
Jadi
individualitas adalah pernyataan asasi yang pertama dan terakhir, dari pada kemanusiaan,
serta letak kebenarannya daripada nilai kemanusiaan itu sendiri. Karena
individu adalah penanggung jawab terakhir dan mutlak daripada awal perbuatannya,
maka kemerdekaan pribadi, adalah haknya yang pertama dan asasi.
Tetapi
individualitas hanyalah pernyataan yang asasi dan primer saja dari pada kemanusiaan.
Kenyataan lain, sekalipun sifat sekunder , ialah bahwa individu dalam suatu
hubungan tertentu dengan dunia sekitarnya. Manusia hidup ditengah alam sebagai
makhluk sosial hidup ditengah sesama. Dari segi ini manusia adalah bagian dari
keseluruhan alam yang merupakan satu kesatuan. Oleh karena itu kemerdekaan
harus diciptakan untuk pribadi dalam kontek hidup ditengah masyarakat.
Sekalipun kemerdekaan adalah esensi daripada kemanusiaan, tidak berarti bahwa
manusia selalu dan dimana saja merdeka. Adanya batas-batas dari kemerdekaan
adalah suatu kenyataan. Batas-batas tertentu itu dikarenakan adanya hukum-hukum
yang pasti dan tetap menguasai alam. Hukum yang menguasai benda-benda maupun
masyarakat manusia sendiri yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung kepada
kemauan manusia.
Hukum-hukum itu
mengakibatkan adanya "keharusan Universal " atau "kepastian hukum
" dan takdir. 3) jadi kalau kemerdekaan pribadi diwujudkan dalam kontek hidup
di tengah alam dan masyarakat dimana terdapat keharusan universal yang tidak
tertaklukan, maka apakah bentuk yang harus dipunyai oleh seseorang kepada dunia
sekitarnya?
Sudah tentu
bukan hubungan penyerahan, sebab penyerahan berarti peniadaan terhadap
kemerdekaan itu sendiri. Pengakuan akan adanya keharusan universal yang
diartikan sebagai penyerahan kepadanya sebelum suatu usaha dilakukan berarti
perbudakan. Pengakuan akan adanya kepastian umum atau takdir hanyalah pengakuan
akan adanya batas-batas kemerdekaan. Sebaliknya suatu persyaratan yang positif
daripada kemerdekaan adalah pengetahuan tentang adanya kemungkinan-kemungkinan
kretif manusia. Yaitu tempat bagi adanya usaha yang bebas dan dinamakan
"ikhtiar" artinya pilih merdeka. Ikhtiar adalah kegiatan kemerdekaan
dari individu, juga berarti kegiatan dari manusia merdeka. Ikhtiar merupakan
usaha yang ditentukan sendiri dimana manusia berbuat sebagai pribadi banyak
segi yang integral dan bebas; dan dimana manusia tidak diperbudak oleh suatu
yang lain kecuali oleh keinginannya sendiri dan kecintaannya kepada kebaikan.
Tanpa adanya kesempatan untuk berbuat atau berikhtiar, manusia menjadi tidak
merdeka dan menjadi tidak bisa dimengerti untuk memberikan pertanggung jawaban
pribadi dari amal perbuatannya. Kegiatan merdeka berarti perbuatan manusia yang
merubah dunia dan dirinya sendiri. Jadi sekalipun terdapat keharusan universal
atau takdir manusia dengan haknya untuk berikhtiar mempunyai peranan aktif dan menentukan
bagi dunia dan dirinya sendiri.
Manusia tidak
dapat berbicara mengenai takdir suatu kejadian sebelum kejadian itu menjadi
kenyataan. Maka percaya kepada takdir akan membawa keseimbangan jiwa tidak
terlalu berputus asa karena suatu kegagalan dan tidak perlu membanggakan diri
karena suatu kemunduran. Sebab segala sesuatu tidak hanya terkandung pada
dirinya sendiri, melainkan juga kepada keharusan yang universal itu.
D. KETUHANAN
YANG MAHA ESA DAN KEMANUSIAAN
Telah jelas
bahwa hubungan yang benar antara individu manusia dengan dunia sekitarnya bukan
hubungan penyerahan. Sebab penyerahan meniadakan kemerdekaan dan keikhklasan
dan kemanusiaan. Tatapi jelas pula bahwa tujuan manusia hidup merdeka dengan
segala kegiatannya ialah kebenaran. Oleh karena itu sekalipun tidak tunduk pada
sesuatu apapun dari dunia sekelilingnya, namun manusia merdeka masih dan mesti
tunduk kepada kebenaran. Karena menjadikan sesuatu sebagai tujuan adalah
berarti pengabdian kepada-Nya.
Jadi
kebenaran-kebenaran menjadi tujuan hidup dan apabila demikian maka sesuai
dengan pembicaraan terdahulu maka tujuan hidup yang terakhir dan mutlak ialah
kebenaran terakhir dan mutlak sebagai tujuan dan tempat menundukkan diri.
Adakah kebenaran terakhir dan mutlak itu ?. Ada, sebagaimana tujuan akhir dan
mutlak daripada hidup itu ada. Karena sikapnya yang terakhir (ultimate) dan
mutlak maka sudah pasti kebenaran itu hanya satu secara mutlak pula.
Dalam
perbendaharaan kata dan kulturiil, kita sebut kebenaran mutlak itu "Tuhan",
kemudian sesuai dengan uraian bab I, Tuhan itu menyatakan diri kepada manusia
sebagai Allah. Karena kemutlakannya, Tuhan bukan saja tujuan segala kebenaran.
Maka dia adalah Yang Maha Benar. Setiap pikiran yang maha benar adalah pada hakikatnya
pikiran tentang Tuhan YME. Oleh sebab itu seseorang manusia merdeka ialah yang
ber-ketuhanan Yang Maha Esa. Keiklasan tiada lain adalah kegiatan yang
dilakukan semata-mata bertujuan kepada Tuhan YME, yaitu kebenaran mutlak, guna
memperoleh persetujuan atau "ridho" daripada-Nya. Sebagaimana
kemanusiaan terjadi karena adanya kemerdekaan dan kemerdekaan ada karena adanya
tujuan kepada Tuhan semata-mata. Hal itu berarti segala bentuk kegiatan hidup
dilakukan hanyalah karena nilai kebenaran itu yang terkandung didalamnya guna
mendapat
pesetujuan atau
ridho kebenaran mutlak. Dan hanya pekerjaan "karena Allah" itulah
yang bakal memberikan rewarding bagi kemanusiaan. Kata "iman" berarti
percaya dalam hal ini percaya kepada Tuhan sebagai tujuan hidup yang mutlak dan
tempat mengabdikan diri kepada-Nya. Sikap menyerahkan diri dan mengabdi kepada
Tuhan itu disebut Islam. Islam menjadi nama segenap ajaran pengabdian kepada
Tuhan YME. Pelakunya disebut "Muslim". Tidak lagi diperbudak oleh
sesama manusia atau sesuatu yang lain dari dunia sekelilingnya, manusia muslim
adalah manusia yang merdeka yang menyerahkan dan menyembahkan diri kepada Tuhan
YME. Semangat tauhid (memutuskan pengabdian hanya kepada Tuhan YME) menimbulkan
kesatuan tujuan hidup, kesatuan kepribadian dan kemasyarakatan. Kehidupan
bertauhid tidak lagi berat sebelah, parsial dan terbatas. Manusia bertauhid
adalah manusia yang sejati dan sempurna yang kesadaran akan dirinya tidak
mengenal batas.
Dia adalah
pribadi manusia yang sifat perorangannya adalah keseluruhan (totalitas) dunia
kebudayaan dan peradaban. Dia memiliki seluruh dunia ini dalam arti kata
mengambil bagian sepenuh mungkin dalam menciptakan dan menikmati kebaikan-kebaikan
dan peradaban kebudayaan. Pembagian kemanusiaan tidak selaras dengan dasar
kesatuan kemanusiaan (human totality) itu antara lain, ialah pemisahan antara
eksistensi ekonomi dan moral manusia, antara kegiatan duniawi dan ukhrowi
antara tugas-tugas peradaban dan agama. Demikian pula sebaliknya, anggapan
bahwa manusia adalah tujuan pada dirinya membela kemanusiaan seseorang menjadi
: manusia sebagai pelaku kegiatan dan manusia sebagai tujuan kegiatan.
Kepribadian yang pecah berlawanan dengan kepribadian kesatuan (human totality)
yang homogeny dan harmonis pada dirinya sendiri : jadi berlawanan dengan
kemanusiaan.
Oleh karena
hakikat hidup adalah amal perbuatan atau kerja, maka nilai-nilai tidak dapat
dikatakan ada sebelum menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan konkrit dan
nyata. Kecintaan kepada Tuhan sebagai kebaikan, keindahan dan kebenaran yang
mutlak dengan sendirinya memancar dalam kehidupan seharihari dalam hubungannya
dengan alam dan masyarakat, berupa usaha-usaha yang nyata guna menciptakan
sesuatu yang membawa kebaikan, keindahan dan kebenaran bagi sesama manusia
"amal saleh" (harafiah: pekerjaan yang selaras
dengan
kemanusiaan) merupakan pancaran langsung daripada iman. Jadi Ketuhanan YME
memancar dalam perikemanusiaan. Sebaliknya karena kemanusiaan adalah kelanjutan
kecintaan kepada kebenaran maka tidak ada perikemanusiaan tanpa Ketuhanan YME.
Perikemanusiaan tanpa Ketuhanan adalah tidak sejati. Oleh karena itu semangat
Ketuhanan YME dan semangat mencari ridho daripada-Nya adalah dasar peradaban
yang benar dan kokoh.
Dasar selain itu
pasti goyah dan akhirnya membawa keruntuhan peradabannya. "Syirik"
merupakan kebalikan dari tauhid, secara harafiah artinya mengadakan tandingan,
dalam hal ini kepada Tuhan. Syirik adalah sifat menyerah dan menghambakan diri
kepada sesuatu selain kebenaran baik kepada sesame manusia maupun alam. Karena
sifatnya yang meniadakan kemerdekaan asasi, syirik merupakan kejahatan terbesar
kepada kemanusiaan. Pada hakikatnya segala bentuk kejahatan dilakukan orang
karena syirik. Sebab dalam melakukan kejahatan itu dia menghambakan diri kepada
motif yang mendorong dilakukannya kejahatan tersebut yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip kebenaran. Demikian pula karena syirik seseorang mengadakan
pamrih atas pekerjaan yang dilakukannya. Dia bekerja bukan karena nilai
pekerjaan itu sendiri dalam hubungannya dengan kebaikan, keindahan dan
kebenaran, tetapi karena hendak memperoleh sesuatu yang lain.
"Musyrik"
adalah pelaku daripada syirik. Seseorang yang menghambakan diri kepada sesuatu
selain Tuhan baik manusia maupun alam disebut musyrik, sebab dia mengangkat
sesuatu selain Tuhan menjadi setingkat dengan Tuhan. Demikian pula seseorang
yang menghambakan (sebagaimana dengan jiran atau diktator) adalah musyrik,
sebab dia mengangkat dirinya sendiri setingkat dengan Tuhan. Kedua perlakuan
itu merupakan penentang terhadap kemanusiaan, baik bagi dirinya sendiri maupun
kepada orang lain. Maka sikap berperikemanusiaan adalah sikap yang adil, yaitu
sikap menempatkan sesuatu kepada tempatnya yang wajar, seseorang yang adil
(wajar) ialah yang memandang manusia. Tidak melebihkan sehingga menghambakan
dirinya kepada-Nya. Dia selau menyimpan itikad baik dan lebih baik (ikhsan)
maka kebutuhan menimbulkan sikap yang adil kepada manusia.
E. INDIVIDU DAN
MASYARAKAT
Telah
diterangkan dimuka, bahwa pusat kemanusiaan adalah masing-masing pribadinya dan
bahwa kemerdekaan pribadi adalah hak asasinya yang pertama. Tidak sesuatu yang
lebih berharga daripada kemerdekaan itu. Juga telah dikemukakan bahwa manusia
hidup dalam suatu bentuk hubungan tertentu dengan dunia sekitarnya, sebagai mahkluk
sosial, manusia tidak mungkin memenuhi kebutuhan kemanusiaannya dengan baik
tanpa berada ditengah sesamanya dalam bentuk-bentuk hubungan tertentu. Maka
dalam masyarakat itulah kemerdekaan asasi diwujudkan. Justru karena adanya
kemerdekaan pribadi itu maka timbul perbedaan-perbedaan antara suatu pribadi
dengan lainnya. Sebenarnya perbedaan-perbedaan itu adalah untuk kebaikannya
sendiri : sebab kenyataan yang penting dan prinsipil, ialah bahwa kehidupan
ekonomi, sosial, dan kultural menghendaki pembagian kerja yang berbeda-beda. Pemenuhan
suatu bidang kegiatan guna kepentingan masyarakat adalah suatu keharusan,
sekalipun hanya oleh sebagian anggota saja. Namun sejalan dengan prinsip
kemanusiaan dan kemerdekaan, dalam kehidupan yang teratur tiap-tiap orang harus
diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya melalui aktifitas dan kerja
yang sesuai dengan kecenderungannya dan bakatnya. Namun inilah kontradiksi yang
ada pada manusia dia adalah mahkluk yang sempurna dengan kecerdasan dan
kemerdekaannya dapat berbuat baik kepada
sesamanya,
tetapi pada waktu yang sama ia merasakan adanya pertentangan yang konstan dan
keinginan tak terbatas sebagai hawa nafsu. Hawa nafsu cenderung kearah
merugikan orang lain (kejahatan) dan kejahatan dilakukan orang karena mengikuti
hawa nafsu. Ancaman atas kemerdekaan masyarakat, dan karena itu juga berarti
ancaman terhadap kemerdekaan pribadi anggotanya ialah keinginan tak terbatas
atau hawa nafsu tersebut, maka selain kemerdekaan, persamaan hak antara sesama
manusia adalah esensi kemanusiaan yang harus ditegakkan. Realisasi persamaan
dicapai dengan membatasi kemerdekaan. Kemerdekaan tak terbatas hanya dapat
dipunyai satu orang, sedangkan untuk lebih satu orang, kemerdekaan tak terbatas
tidak dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan, kemerdekaan seseorang dibatasi oleh
kemerdekaan orang lain. Pelaksanaan kemerdekaan tak terbatas hanya berarti
pemberian kemerdekaan kepada pihak yang kuat atas yang lemah (perbudakan dalam
segala bentuknya), sudah tentu hak itu bertentangan dengan prinsip keadilan.
Kemerdekaan dan keadilan merupakan dua nilai yang saling menopang. Sebab harga
diri manusia terletak pada adanya hak bagi orang lain untuk mengembangkan
kepribadiannya. Sebagai kawan hidup dengan tingkat yang sama. Anggota
masyarakat harus saling menolong dalam membentuk masyarakat yang bahagia.
Sejarah dan
perkembangannya bukanlah suatu yang tidak mungkin dirubah. Hubungan yang benar
antara manusia dengan sejarah bukanlah penyerahan pasif, tetapi sejarah
ditentukan oleh manusia sendiri. Tanpa pengertian ini adanya azab Tuhan (akibat
buruk) dan pahala (akibat baik) bagi satu amal perbuatan mustahil ditanggung
manusia. Manusia merasakan akibat amal perbuatannya sesuai dengan ikhtiar.
Dalam hidup ini (dalam sejarah) dalam hidup kemudian (sesudah sejarah). Semakin
seseorang bersungguh-sungguh dalam kekuatan yang bertanggung jawab dengan
kesadaran yang terus menerus akan tujuan dalam membentuk masyarakat semakin ia
mendekati tujuan.
Manusia
mengenali dirinya sebagai makhluk yang nilai dan martabatnya dapat sepenuhnya
dinyatakan, jika ia mempunyai kemerdekaan tidak saja mengatur hidupnya sendiri
tetapi juga untuk memperbaiki dengan sesama manusia dalam lingkungan
masyarakat. Dasar hidup gotong-royong ini ialah keistimewaan dan kecintaan
sesama manusia dalam pengakuan akan adanya persamaan dan kehormatan bagi setiap
orang.
F. KEADILAN
SOSIAL DAN KEADILAN EKONOMI
Telah kita
bicarakan tentang hubungan antara individu dengan masyarakat dimana kemerdekaan
dan pembatas kemerdekaan saling bergantungan, dan dimana perbaikan kondisi
masyarakat tergantung pada perencanaan manusia dan usaha-usaha bersamanya. Jika
kemerdekaan dicirikan dalam bentuk yang tidak bersyarat (kemerdekaan tak
terbatas) maka sudah terang bahwa setiap orang diperbolehkan mengejar dengan
bebas segala keinginan pribadinya.
Akibatnya
pertarungan keinginan yang bermacam-macam itu satu sama lain dalam kekacauan
atau anarchi. Sudah barang tentu menghancurkan masyarakat dan meniadakan
kemanusiaan sebab itu harus ditegakkan keadilan dalam masyarakat. Siapakah yang
harus menegakkan keadilan dalam masyarakat?
Sudah barang
pasti ialah masyarakat sendiri, tetapi dalam prakteknya diperlukan adanya satu
kelompok dalam masyarakat yang karena kualitas-kualitas yang dimilikinya
senantiasa mengadakan usaha-usaha menegakkan keadilan itu dengan jalan selalu
menganjurkan sesuatu yang bersifat kemanusiaan serta mencegah terjadinya
sesuatu yang berlawanan dengan kemanusiaan. Kualitas yang harus dipunyai, rasa
kemanusiaan yang tinggi sebagai pancaran kecintaan yang tak terbatas pada
Tuhan. Di samping itu diperlukan kecakapan yang cukup. Kelompok orang-orang itu
adalah pemimpin masyarakat. Memimpin adalah menegakkan keadilan, menjaga agar
setiap orang memperoleh hak asasinya dan dalam jangka waktu yang sama menghormati
kemerdekaan orang lain dan martabat kemanusiaannya sebagai manifestasi
kesadarannya akan tanggung jawab sosial.
Negara adalah
bentuk masyarakat yang terpenting, dan pemerintah adalah susunan masyarakat
yang terkuat dan berpengaruh. Oleh sebab itu pemerintah yang pertama
berkewajiban menegakkan kadilan. Maksud semula dan fundamental daripada
didirikannya negara dan pemerintah ialah guna melindungi manusia yang menjadi
warga negara daripada kemungkinan perusakkan terhadap kemerdekaan dan harga
diri sebagai manusia sebaliknya setiap orang
mengambil bagian pertanggungjawaban dalam masalah-masalah atas dasar persamaan
yang diperoleh melalui demokrasi.
Pada dasarnya
masyarakat dengan masing-masing pribadi yang ada didalamnya haruslah memerintah
dan memimpin diri sendiri. Oleh karena itu pemerintah haruslah merupakan
kekuatan pimpinan yang lahir dari masyarakat sendiri. Pemerintah haruslah
demokratis, berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, menjalankan
kebijaksanaan atas persetujuan rakyat berdasarkan musyawarah dan dimana
keadilan dan martabat kemanusiaan tidak terganggu. Kekuatan yang sebenarnya
didalam negara ada ditangan rakyat, dan pemerintah harus bertanggung jawab pada
rakyat.
Menegakkan
keadilan mencakup penguasaan atas keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan
pribadi yang tak mengenal batas (hawa nafsu) adalah kewajiban dari negara
sendiri dan kekuatan-kekuatan sosial untuk menjunjung tinggi prinsip
kegotongroyongan dan kecintaan sesama manusia. Menegakkan keadilan amanat
rakyat kepada pemerintah yang musti dilaksanakan. Disadari oleh sikap hidup
yang benar, ketaatan kapada pemerintah termasuk dalam lingkungan ketaatan
kepada Tuhan (kebenaran mutlak). Pemerintah yang benar dan harus ditaati ialah
mengabdi kepada kemanusiaan, kebenaran dan akhirnya kepada Tuhan YME.
Perwujudan
menegakkan keadilan yang terpenting dan berpengaruh ialah menegakkan keadilan
di bidang ekonomi atau pembagian kekeyaan diantara anggota masyarakat. Keadilan
menuntut agar setiap orang dapat bagian yang wajar dari kekayaan atau rejeki.
Dalam masyarakat yang tidak mengenal batas batas individual, sejarah merupakan
perjuangan dialektis yang berjalan tanpa kendali dari pertentangan-pertentangan
golongan yang didorong oleh ketidakserasian antara pertumbuhan kekuatan produksi
disatu pihak dan pengumpulan kekayaan oleh golongan-golongan kecil dengan
hak-hak istimewa dilain pihak. Karena kemerdekaan tak terbatas mendorong
timbulnya jurangjurang pemisah antara kekayaan dan kemiskinan yang semakin
dalam. Proses selanjutnya yaitu bila sudah mencapai batas maksimal pertentangan
golongan itu akan menghancurkan sendi-sendi tatanan sosial dan membinasakan
kemanusiaan dan
peradabannya.
Dalam masyarakat
yang tidak adil, kekeyaan dan kemiskinan akan terjadi dalam kualitas dan proporsi
yang tidak wajar sekalipun realitas selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan
antara manusia dalam kemampuan fisik maupun mental namun dalam kemiskinan dalam
masyarakat dengan pemerintah yang tidak menegakkan keadilan adalah keadilan
yang merupakan perwujudan dari kezaliman. Orang-orang kaya menjadi pelaku
daripada kezaliman sedangkan orang-orang miskin dijadikan sasaran atau
korbannya. Oleh karena itu sebagai yang menjadi sasaran kezaliman, orang-orang
miskin berada dipihak yang benar.
Pertentangan
antara kaum miskin menjadi pertentangan antara kaum yang menjalankan kezaliman
dan yang dizalimi. Dikarenakan kebenaran pasti menag terhadap kebhatilan, maka
pertentangan itu disudahi dengan kemenangan tak terhindar bagi kaum miskin,
kemudian mereka memegang tampuk pimpinan dalam masyarakat. Kejahatan di bidang
ekonomi yang menyeluruh adalah penindasan oleh kapitalisme. Dengan kapitalisme
dengan mudah seseorang dapat memeras orang-orang yang berjuang mempertahankan
hidupnya karena kemiskinan, kemudian merampas hak-haknya secara tidak sah,
berkat kemampuannya untuk memaksakan persyaratan kerjanya dan hidup kepada
mereka. Oleh karena itu menegakkan keadilan mencakup pemberantasan kapitalisme
dan segenap usaha akumulasi kekayaan pada sekelompok kecil masyarakat. Sesudah
syirik kejahatan terbesar kepada kemanusiaan adalah penumpukan harta kekayaan beserta
penggunaanya yang tidak benar, menyimpang dari kepentingan umum, tidak
mengikuti jalan Tuhan. Maka menegakkan keadilan inilah membimbing manusia ke
arah pelaksanaan tata masyarakat yang akan memberikan kepada setiap orang
kesempatan yang sama untuk mengatur hidupnya secara bebas dan terhormat (amar
ma'ruf) dan pertentangan terus menerus terhadap segala bentuk penindasan kepada
manusia kepada kebenaran asasinya dan rasa kemanusiaan (nahi munkar). Dengan
perkataan lain harus diadakan restriksirestriksi atau cara-cara memperoleh,
mengumpulkan dan menggunakan kekayaan itu. Cara yang tidak bertentangan dengan
kamanusiaan diperbolehkan (yang ma'ruf dihalalkan) sedangkan cara yang
bertentangan dengan kemanusiaan dilarang (yang munkar diharamkan).
Pembagian
ekonomi secara tidak benar itu hanya ada dalam suatu masyarakat yang tidak
menjalankan prisip Ketuhanan YME, dalam hal ini pengakuan berketuhanan YME
tetapi tidak melaksanakannya sama nilainya dengan tidak berketuhanan sama
sekali. Sebab nilai-nilai yang tidak dapat dikatakan hidup sebelum menyatakan
diri dalam amal perbuatan yang nyata. Dalam suatu masyarakat yang tidak
menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat tunduk dan menyerahkan diri,
manusia dapat diperbudaknya antara lain oleh harta benda. Tidak lagi seorang
pekerja menguasai hasil pekerjaanya, tetapi justru dikuasai oleh hasil
pekerjaan itu. Produksi seorang buruh memperbesar kapital majikan dan kapital
itu selanjutnya lebih memperbudak buruh. Demikian pula terjadi pada majikan
bukan ia menguasai kapital tetapi kapital itulah yang menguasainya. Kapital
atau kekayaan telah menggenggam dan memberikan
sifat-sifat
tertentu seperti keserakahan, ketamakan dan kebengisan.
Oleh karena itu
menegakkan keadilan bukan saja dengan amar ma'ruf nahi munkar sebagaimana
diterapkan dimuka, tetapi juga melalui pendidikan yang intensif terhadap
pribadi-pribadi agar tetap mencintai kebenaran dan menyadari secara mendalam
akan andanya tuhan. Sembahyang merupakan pendidikan yang kontinue, sebagai
bentuk formil peringatan kepada tuhan. Sembahyang yang benar akan lebih efektif
dalam meluruskan dan membetulkan garis hidup manusia. Sebagaimana ia mencegah
kekejian dan kemungkaran. Jadi sembahyang merupakan penopang hidup yang benar.
Sembahyang menyelesaikan masalah - masalah kehidupan, termasuk pemenuhan
kebutuhan yang ada secara instrinsik pada rohani manusia yang mendalam, yaitu kebutuhan
sepiritual berupa pengabdian yang bersifat mutlak.
Pengabdian yang
tidak tersalurkan secara benar kepada tuhan YME tentu tersalurkan kearah
sesuatu yang lain. Dan membahayakan kemanusiaan. Dalam hubungan itu telah
terdahulu keterangan tentang syirik yang merupakan kejahatan fundamental
terhadap kemanusiaan. Dalam masyarakat, yang adil mungkin masih terdapat
pembagian manusia menjadi golongan kaya dan miskin. Tetapi hal itu terjadi
dalam batas - batas kewajaran dan kemanusian dengan pertautan kekayaan dan
kemiskinan yang mendekat. Hal itu sejalan dengan dibenarkannya pemilikan
pribadi (Private ownership) atas harga kekayaan dan adanya perbedaan -
perbedaan tak terhindar dari pada kemampuan - kemampuan pribadi, fisik maupun
mental. Walaupun demikian usaha – usaha kearah perbaikan dalam pembagian rejeki
ke arah yang merata tetap harus dijalankan oleh masyarakat. Dalam hal ini zakat
adalah penyelesaian terakhir masalah perbedaan kaya dan miskin itu. Zakat
dipungut dari orang - orang kaya dalam jumlah presentase tertentu untuk
dibagikan kepada orang miskin.
Zakat dikenakan
hanya atas harta yang diperoleh secara benar, Syah dan halal saja. Sedang harta
kekayaan yang haram tidak dikenakan zakat tetapi harus dijadikan milik umum
guna manfaat bagi rakyat dengan jalan penyitaan oleh pemerintah. Oleh karena
itu, sebelum penarikan zakat dilakukan terlebih dahulu harus dibentuk suatu
masyarakat yang adil berdasarkan ketuhanan Tuhan Yang Maha Esa, dimana tidak
lagi didapati cara memperoleh kekayaan secara haram, diman penindasan atas
manusia oleh manusia dihapus. Sebagaimana ada ketetapan tentang bagaimana harta
kekayaan itu diperoleh, juga ditetapkan bagaimana mempergunakan harta kekayaan
itu. Pemilikan pribadi dibenarkan hanya jika hanya digunakan hak itu tidak
bertentangan, pemilikan pribadi menjadi batal dan pemerintah berhak mengajukan
konfikasi.
Seorang
dibenarkan mempergunakan harta kekayaan dalam batas – batas tertentu, yaitu
dalam batas tidak kurang tetapi juga tidak melebihi rata - rata atau israf
pertentangan dengan perikemanusiaan. Kemewahan selalu menjadi provokasi terhadap
pertentangan golongan dalam masyarakat membuat akibat destruktif. Sebaliknya
penggunaan kurang dari rata-rata masyarakat ( taqti) merusakkan diri sendiri
dalam masyarakat disebabkan membekunya sebagian dari kekayaan umum yang dapat
digunakan untuk manfaat bersama.
Hal itu semuanya
merupakan kebenaran karena pada hakekatnya seluruh harta kekayaan ini adalah
milik Tuhan. Manusia seluruhnya diberi hak yang sama atas kekayaan itu dan
harus diberikan bagian yang wajar dari padanya. Pemilikan oleh seseorang (secara
benar) hanya bersifat relatif sebagai mana amanat dari Tuhan. Penggunaan harta
itu sendiri harus sejalan dengan yang dikehendaki tuhan, untuk kepentingan
umum. Maka kalau terjadi kemiskinan, orang - orang miskin diberi hak atas
sebagian harta orang - orang kaya, terutama yang masih dekat dalam hubungan
keluarga. Adalah kewajiban negara dan masyarakat untuk melindungi kehidupan
keluarga dan memberinya bantuan dan dorongan. Negara yang adil menciptakan
persyaratan hidup yang wajar sebagaimana yang diperlukan oleh pribadi-pribadi
agar diandan keluarganya dapat mengatur hidupnya secara terhormat sesuai dengan
kainginankeinginannya untuk dapat menerima tanggungjawab atas
kegiatan-kegiatnnya. Dalam prakteknya, hal itu berarti bahwa pemerintah harus
membuka jalan yang mudah dan kesempatan yang sama kearah pendidikan, kecakapan
yang wajar kemerdekaan beribadah sepenuhnya dan pembagian kekayaan bangsa yang pantas.
G. KEMANUSIAAN
DAN ILMU PENGETAHUAN
Dari seluruh
uraian yang telah di kemukakan , dapatlah dikumpulkan dengan pasti bahwa inti
dari pada kemanusiaan yang suci adalah Iman dan kerja kemanusiaan atau Amal
Saleh Iman dalam pengertian kepercayaan akan adanya kebenaran mutlak yaitu
Tuhan Yang Maha Esa , serta menjadikanya satusatunya tujuan hidup dan tempat
pengabdian diri yang terakhir dan mutlak. Sikap itu menimbulkan kecintaan tak
terbatas pada kebenaran, kesucian dan kebaikan yang menyatakan dirinya dalam
sikap pri kemanusiaan. Sikap pri kemanusiaan menghasilkan amal saleh, artinya
amal yang bersesuaian dengan dan meningkatkan kemanusiaan. Sebaik-baiknya
manusia ialah yang berguna untuk sesamanya. Tapi bagaimana hal itu harus
dilakukan manusia ?.
Sebagaimana
setiap perjalanan kearah suatu tujuan ialah gerakan kedepan demikian pula
perjalanan ummat manusia atau sejarah adalah gerakan maju kedepan. Maka semua
nilai dalam kehidupan relatif adanya berlaku untuk suatu tempat dan suatu waktu
tertentu. Demikianlah segala sesuatu berubah, kecuali tujuan akhir dari segala
yang ada yaitu kebenaran mutlak (Tuhan). Jadi semua nilai yang benar adalah
bersumber atau dijabarkan dari ketentuan-ketentuan hukum-hukum Tuhan. Oleh
karena itu manusia berikhtiar dan merdeka, ialah yang bergerak. Gerakan itu
tidak lain dari pada gerak maju kedepan (progresif). Dia adalah dinamis, tidak
setatis. Dia bukanlah seorang tradisional, apalagi reaksioner. Dia menghendaki
perubahan
terus menerus
sejalan dengan arah menuju kebenaran mutlak. Dia senantiasa mencarai
kebenaran-kebenaran selama perjalanan hidupnya. Kebenarankebenaran itu menyatakan
dirinya dan ditemukan didalam alam dari sejarah umat manusia.
Ilmu pengetahuan
adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran dalam
hidupnya, sekalipun relatif namun kebenarankebenaran merupakan tonggak sejarah
yang mesti dilalui dalam perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Dan
keyakinan adalah kebenaran mutlak itu sendiri pada suatu saat dapat dicapai
oleh manusia, yaitu ketika mereka telah memahami benar seluruh alam dan
sejarahnya sendiri. Jadi ilmu pengetahuan adalah persyaratan dari amal soleh.
Hanya mereka yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan dapat berjalan diatas
kebenaran-kebenaran, yang menyampaikan kepada kepatuhan tanpa reserve kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Dengan iman dan kebenaran ilmu pengetahuan manusia
mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi.
Ilmu pengetahuan
ialah pengertian yang dipunyai oleh manusia secara benar tentang dunia
sekitarnya dan dirinya sendiri. Hubungan yang benar antara manusia dan alam
sekelilingnya ialah hubungan dan pengarahan. Manusia harus menguasai alam dan
masyarakat guna dapat mengarahkanya kepada yang lebih baik. Penguasaan dan
kemudian pengarahan itu tidak mungkin dilaksanakan tanpa pengetahuan tentang
hukum-hukumnya agar dapat menguasai dan menggunakanya bagi kemanusiaan. Sebab
alam tersedia bagi ummat manusia bagi kepentingan pertumbuhan kemanusiaan. Hal
itu tidak dapat dilakukan kecuali mengerahkan kemampuan intelektualitas atau
rasio. Demikian pula manusia harus memahami sejarah dengan hukum-hukum yang
tetap. Hukum sejarah yang tetap (sunatullah untuk sejarah) yaitu garis besarnya
ialah bahwa manusia akan menemui kejayaan jika setia kepada kemanusiaan
fitrinya dan menemui kehancuran jika menyimpang dari padanya dengan menuruti
hawa nafsu.
Tetapi cara-cara
perbaikan hidup sehingga terus-menerus maju kearah yang lebih baik sesuai
dengan fitrah adalah masalah pengalaman. Pengalaman ini harus ditarik dari masa
lampau, untuk dapat mengerti masa sekarang dan memperhitungkan masa yang akan
datang. Menguasai dan mengarahkan masyarakat ialah mengganti kaidah-kaidah
umumnya dan membimbingnya kearah kemajuan dan perbaikan.
H. KESIMPULAN
DAN PENUTUP
Dari seluruh
uraian yang telah lalu dapatlah diambil kesimpulan secara garis besar sbb :
1. Hidup yang
benar dimulai dengan percaya atau iman kepada Tuhan. Tuhan YME dan keinginan
mendekat serta kecintaan kepada-Nya yaitu takwa. Iman dan takwa bukanlah nilai
yang statis dan abstrak. Nilai-nilai itu mamancar dengan sendirinya dalam
bentuk kerja nyata bagi kemanusiaan dan amal saleh. Iman tidak memberi arti
apa-apa bagi manusia jika tidak disertai dengan usaha-usaha dan
kegiatan-kegiatan yang sungguh-sungguh untuk menegakkan perikehidupan yang
benar dalam peradaban dan berbudaya.
2. Iman dan
takwa dipelihara dan diperkuat dengan melakukan ibadah atau pengabdian formil
kepada Tuhan, ibadah mendidik individu agar tetap ingat dan taat kepada Tuhan
dan berpegang tuguh kepada kebenaran sebagai mana dikehendaki oleh hati nurani
yang hanif. Segala sesuatu yang menyangkut bentuk dan cara beribadah menjadi
wewenang penuh dari pada agama tanpa adanya hak manusia untuk mencampurinya.
Ibadat-ibadat yang terus menerus kepada Tuhan menyadarkan manusia akan
kedudukannya di tengah alam dan masyarakat dan sesamanya. Ia telah melebihkan
sehingga kepada kedudukan Tuhan dengan merugikan orang lain, dan tidak mengurangi
kehormatan dirinya sebagai mahluk tertinggi dengan akibat perbudakan diri
kepada alam maupun orang lain.
3. Kerja
kemanusiaan atau amal saleh mengambil bentuknya yang utama dalam usaha yanag
sungguh - sungguh secara essensial menyangkut kepentingan manusia secara
keseluruhan, baik dalam ukuran ruang maupun waktu yang menegakkan keadilan
dalam masyarakat sehingga setiap orang memperoleh harga diri dan martabatnya
sebagai manusia. Hal itu berarti
usaha - usaha
yang terus menerus harus dilakukan guna mengarahkan masyarakat kepada nilai -
nilai yang baik, lebih maju dan lebih insani usaha itu ialah "amar ma'ruf
, disamping usaha lain untuk mencegah segala bentuk kejahatan dan kemerosotan
nilai - nilai kemanusiaan dan nahi mungkar. Selanjutnya bentuk kerja
kemanusiaan yang lebih nyata ialah pembelaan kaum lemah, kaum tertindas dan
kaum miskin pada umumnya serta usaha - usaha kearah penungkatan nasib dan taraf
hidup mereka yang wajar dan layak sebagai manusia.
4. Kesadaran dan
rasa tanggung jawab yang besar kepada kemanusiaan melahirkan jihad, yaitu sikap
berjuang. Berjuang itu dilakukan dan ditanggung bersama oleh manusia dalam
bentuk gotong royong atas dasar kemanusiaan dan kecintaan kepada Tuhan.
Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan menuntut ketabahan, kesabaran, dan
pengorbanan. Dan dengan jalan itulah kebahagiaan dapat diwujudkan dalam
masyarakat manusia. Oleh sebab itu persyaratan bagi berhasilnya perjuangan
adalah adanya barisan yang merupakan bangunan yang kokoh kuat. Mereka terikat
satu sama lain oleh persaudaraan dan solidaritas yang tinggi dan oleh sikap
yang tegas kepada musuh - musuh dari kemanusiaan. Tetapi justru demi
kemanusiaan mereka adalah manusia yang toleran. Sekalipun mengikuti jalan yang
benar, mereka tidak memaksakan kepada orang lain atau golongan lain.
5. Kerja
kemanusiaan atau amal saleh itu merupakan proses perkembangan yang permanen.
Perjuang kemanusiaan berusaha mengarah kepada yang lebih baik, lebih benar.
Oleh sebab itu manusia harus mengetahui arah yang benar dari pada perkembangan
peradaban disegala bidang. Dengan perkataan lain, manusia harus mendalami dan
selalu mempergunakan ilmu pengetahuan. Kerja manusia dan kerja kemanusiaan
tanpa ilmu tidak akan mencapai tujuannya, sebaliknya ilmu tanpa rasa
kemanusiaan tidak akan membawa kebahagiaan bahkan mengahancurkan peradaban.
Ilmu pengetahuan adalah karunia Tuhan yang besar artinya bagi manusia.
Mendalami ilmu
pengetahun harus didasari oleh sikap terbuka. Mampu mengungkapkan perkembangan pemikiran
tentang kehidupan berperadaban dan berbudaya. Kemudian mengambil dan
mengamalkan diantaranya yang terbaik. Dengan demikian tugas hidup manusia
menjadi sangat sederhana yaitu beriman, berilmu dan beramal.
Billahitaufiq
Wal hidayah
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb.
RUJUKAN
NILAI DASAR PERJUANGAN
HIMPUNAN
MAHASISWA ISLAM
DASAR – DASAR
KEPERCAYAAN
1. Al – qur’an.
S. An – nahal (XVI) 89, artinya : “dan kami (Tuhan) telah menurunkan kepada
engkau (Muhammad) sebuah kitab (Al – qur’an) sebagai keterangan tentang sesuatu
serta sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang – orang muslim.”
2. Al – qur’an.
S. Al – Ikhlas (CXII) : 1 – 4 artinya : “Katakanlah : Dia adalah Tuhan Yang
Maha Esa dia adalah Tuhan, Tuhan segala tempat harapan. Tiada ia berputar dan
tiada pula berbapak serta tiada satupun baginya sepadan.”
3. Al – qur’an.
S. Al – Hadid (LVII) : 3, artinya : “Dia adalah yang pertama dan terakhir dan
yang lahir dan bathin.”
4. Al – qur’an
S. Al – Baqarah (II) 115, artinya : “Maka kemanapun jua berpaling, disanalah
wajah Tuhan.”
5. Al – qur’an.
S. Al – an’am (VI) : 73, artinya : “Dan dia (Tuhan) beserta kamu dimanapun kamu
berada.”
6. Al – qur’an.
S. Al – an’am (VI) : 73, artinya : “Dan dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu
kemudian mengaturnya dengan peraturan yang pasti.”
7. Al – qur’an.
S. Al – Mu’min (XXIII) : 14, artinya : “Maka Maha Mulialah Tuhan, sebaik –
baiknya pencipta.”
8. Al – qur’an.
S. Luqman (XXXI) 20, artinya : “Tidaklah kamu memperhatikan bahwa Allah
menyediakan bagimu segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang
ada di bumi dan melimpahkannya kepada kami karunia – karunia mendatar- Nya baik
yang nampak maupun yang tidak nampak.”
9. Al – qur’an,
S. Yunus (X) : 101, artinya : “Katakanlah : Perhatikan olehmu apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi, tanda – tanda dan peringatan itu tidak ada berguna
bagi golongan manusia yang tidak percaya.”
10. Al – qur’an,
S. Shod (XXXVIII) : 27, artinya : “Tidaklah kamu (Tuhan) menciptakan lagit dan
bumi dan segala sesuatu yang ada diantara keduanya itu secara palsu hal itu
hanyalah prasangka orang – orang kafir saja.”
11. Al – qur’an,
S. Al – Tien (XCVO) : 4, artinya : “Sesungguhnya kami (Tuhan) telah menciptakan
manusia – manusia dalam bentuk yang sebaik – baiknya.”
12. Al – qur’an,
S. Al – Isra (XVII) : 70, artinya : “Dan kami lebih mereka itu (umat manusia)
di atas banyak dari segala sesuatu yang kami ciptakan dengan kelebihan yang
nyata.”
13. Al – qur’an,
S. Al – an’am (VI) : 165, artinya : “Dan dialah (Tuhan) yang menjadikan kamu sekalian
(umat manusia) sebagai khalifa – khalifah bumi, serta melebihkan sebahagian
dari kamu atas sebagian yang lain bertingkat – tingkat untuk menguji kamu dalam
hal – hal yang telah diuraikan kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan cepat siksanya
(akibat buruk daripadanya perbuatan manusia yang salah) dan dia pastilah Maha
Pengampun dan Maha Penyayang (memberikan akibat baik atas perbuatan manusia
yang benar).”
14. Al – qur’an,
S. Hud (XI) : 16 artinya : “Dia (Tuhan) menumbuhkan kamu (umat islam) dari bumi
dan menyuruh kamu memakmurkannya.
15. Al – qur’an,
S. Al – Ahzab (XXXIII) : 72, artinya : “Sesungguhnya kamu (Tuhan) menawarkan
semua amanah (akal pikiran) kepada langit, bumi dan gunung – gunung, maka
mereka itu menolak untuk menanggungnya dan merasakan keberatan atas amanah itu,
manusialah yang menanggungnya, sesungguhnya manusia mempersulit diri sendiri
dan bodoh.”
16. Al – qur’an,
S. Al – Ankabut (XXVII) : 20, artinya : “Katakanlah : mengembaralah kamu ke
muka bumi, kemudian perhatikanlah olehmu bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya
kemudian mengembangkan pertumbuhan yang pertumbuhan sesungguhnya Allah itu Maha
Kuasa atas segala sesuatu.”
17. Al – qur’an.
S. Al – Qashash (XXVII) : 20, artinya : “Katakanlah : Mengembaralah kamu ke
muka bumi, kemudian perhatikanlah olehmu bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya
kemudian mengembangkan pertumbuhan yang kemudian, sesungguhnya Allah itu Maha
Kuasa atas segala sesuatu.” 18. Al – qur’an, S. Al – Isra (XVII) : 72, artinya
: “Dan barang siapa disini (dunia) buta (tidak berilmu), maka di akhirat nanti
akan buta pula dan lebih sesat lagi jalannya.”
19. Al – qur’an,
S. Al – Isra (XVII) : 36, artinya : “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu
yang tidak engkau mempunyai pengertian tentang hal itu, sebab sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati nurani itu semuanya pertanggung jawab atas
hal tersebut.”
20. Al – qur’an,
S. Al – Mujaadalah (LVII) : 11, artinya : “Allah mengangkat orang – orang beriman
diantara kamu dan berilmu bertingkat – tingkat.”
21. Al – qur’an,
S. Fushilat (1) : artinya : “Janganlah kamu bersujud kepada matahari ataupun
bulan tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan.”
22. Al – qur’an,
S. Al – Fatihah (1) : artinya : “Janganlah kamu bersujud kepada matahari ataupun
bulan tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan.”
23. Al – qur’an,
S. Al – Hajj (XXII) : 56, artinya : “Kerajaan pada hari itu hanyalah bagi Allah,
Dia mengadili antara manusia (suatu lukisan simbolis). “Bagi siapakah pekerjaan
hari ini ? bagi Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa.”
24. Al – qur’an,
S. Al – Baqarah (11) : 48, artinya : “Dan berjaga – jagalah kamu sekalian terhadap
massa dimana seseorang tidak sedikitpun membela orang – orang lain dan dimana
tidak di terima suatu pertolongan dan tidak suatu tebusan serta tidak pula itu akan
dibantunya.”
25. Al – qur’an,
S. Al – A’raf (II) : 187, artinya : “Mereka bertanya kepada engkau (Muhammad)
tentang hari kiamat kapan akan terjadi ? Jawablah : sesungguhnya pengetahuan
tentang hari kiamat itu hanya ada pada Tuhan. Tidak seorangpun dapat menjelaskan
selain dari Dia Sendiri.”
PENGERTIAN DASAR
TENTANG KEMANUSIAAN
1. Al – qur’an,
S. Ar – Rum (XXX) 30, artinya : “Hadapkan dengan seluruh dirimu itu kepada
agama (Islam) sebagaimana engkau adalah hanief (secara kodrat melihat kebenaran,
itulah fitrah Tuhan yang telah memfitrahkan manusia padanya).”
2. Al – qur’an,
S. Adz – Dzariyat (XVL) 56, artinya : “Aku (Tuhan) tidaklah menciptakan jin dan
manusia hanyalah untuk berbakti kepada-Ku.”
3. Al – qur’an,
S. At – Taubah (IX) 105, artinya : “Katakanlah, bekerjalah kamu sekalian !
Tuhan akan melihat kerjamu demikian juga Rasul-nya dan orang – orang beriman (masyarakat).”
4. Al – qur’an,
S. At – Taubah (IX) 2 – 3, artinya : “Hai orang – orang yang beriman, mengapakah
kamu mengadakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? besar dosanya bagi Tuhan
jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak baik kamu kerjakan.”
5. Al – qur’an,
S. An – Nahl (IV) 3, artinya : “Barang siapa siap berbuat baik lelak maupun
perempuan sedangkan ia beriman, maka pastikan kami (Tuhan) berikan kepadanya
hidup yang bahagia dan pasti kami berikan pahala bagi mereka dengan sebaik –
baiknya apa yang telah mereka perbuat.”
6. Al – qur’an,
S. Al – Ankabut (XXIX) 6, artinya : “Barang siapa berjuang, maka sebenarnya dia
berjuang untuk dirinya sendiri.”
7. Al – qur’an,
S. An – Nisa (IV), 125 artinya : “Siapakah yang lebih baik agama daripada orang
yang menyerahkan diri dengan agama dari dengan seluruh pribadinya kepada Tuhan
yang dan dia berbuat baik (cinta kabikan) serta mengikuti ajaran Ibrahim secara
Hanief.”
8. Al – qur’an,
Az – Zumar (XXXIV) 18, artinya : ‘Mereka yang mendengarkan perkataan (pendapat)
berusaha mengikuti yang terbaik (benar) daripadanya, mereka itulah yang mendapatkan
petunjuk dari Tuhan dan mereka itulah yang orang – orang yang mempunyai
fikiran.
9. Al- qur’an,
S. Al-Baqarah (II) 28 artinya : “Tuhan memberikan keijaksanaan kepada siapa
saja yang dikehendaki-Nya . Maka barang siapa yang mendapat kebijaksanaan itu
sesungguhnya dia telah memperoleh kebaikan yang melimpah . Dan tidak memikirkan
hal itu kecuali orang-orang yang berasal ”
10. Al-Qur’an .
S. Al-An’am (VI) 269 . artinya : “Barang siapa yang tuhan kehendaki untuk diberikan
kepadanya petunjuk (kepada kebenaran), tetapi barang siapa yang dikehendaki
Tuhan untuk disesatkan maka dadanya dijadikan sempit dan sesak, seakan-akan dia
sedang naik kelangit”.
11. Al-Qur’an
S.Ali-Imran (III) 123, artinya : “ ( orang yang bertaqwa itu ) mereka yang dapat
menahan marah, suka memaafkan kepada sesama manusia dan Tuhan cinta kepada orang
orang yang selalu berbuat baik “.
12. Al-Qur’an. S.
Baiynah ( XCVIII) 5. artinya : “ Mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk
berbakti kepada Tuhan dengan mengikhlaskan agama (kebatinan) sematamata kepada-Nya
secara Hanief (mencari kebenaran) menegakkan sembahyang mengeluarkan
zakat,itulah jalan (agama) yang benar.”
13. Al-qur’an,
S. Al-Baqarah (II) 28 ,artinya : ’’Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada siapa
saja yang dikenhendaki-Nya. Maka barang siapa yang mendapat kebijaksanaan itu
sesungguhnys dia telah memperoleh kebaikan yang melimpah. Dan tidak memikirkan
hal itu kecuali orang-orang yang berasal “.
14. Al-Qur’an,S.
Al-Insan (LXXVI) 8-9, artinya : “ Dan mereka itu memberikan makan kepada orang
miskin Anak-anak yatim dan orang tertawa atas dasar sukarela mereka berkata :
Kami memberi makan kepadamu semata-mata hanya karena diri Tuhan (mencari
ridho-Nya) bukan karena mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih.
15. Dari
kesimpulan dari gambaran surat Al-qura’an, S Al-baqarah (II) 263, artinya :’’hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menggugurkan sedekahnya dengan cacian
dan celaan, sebagaimana orang yang mendarmakan hartanya karena pamrih kepada
sesama manusia serta tidak percaya kepada Tuhan dan hari kemudian. Maka
perumpamaan baginya adalah seperti batu yang di atasnya ada debu dan kemudian
di sapu oleh hujan dan batu itu tertinggal licin. Mereka itu sedikitpun menguasai
apa yang telah mereka kerjakan.’’
16. Disimpulkan
dari Al-qur’an, S. Fatir (XXXV), artinya : “ Barang siapa menghendaki kemudian
itu aada pada Tuhan, kpada-Nya ucapan yang baik menuju pekerjaan yang
diangkat-nya.
KEMERDEKAAN
MANUSIA (IKHTIAR) DAN KEHARUSAN UNIVRSAL (TAQDIR)
1. Tersimpul
dalam Al-qur’an, S. Al-Anfal (VIII) 23, artinya : “Berhati-hatilah kau terhadap
malapetaka yang benar-benar tidaknya mnimpa orang-orang jahat diantara kamu.”
2. Al-qur’an, S.
Al-Baqarah (II) 46, artinya : “ Berhati-hatilah kamu sekalian akan hari
(akhirat) dimana seseorang tidak dapat membela orang lain sedikitpun dan tidak
pula diterima pertolongan dan tebusan daripadanya serta tidak pula orang-orang
itu dibantu.”
3. Al-qur’an, S.
Lukman (XXXI) 46, artinya : “Ingatlah selalu akan hari (kiamat) dimana seorang
ayah tidak menanggung anaknya dan tidak pula seorang anak mennggung ayahny
sedikitpun.”
4. Al-qur’an, S.
Al-hadid (XVII) 22, artinya : “Tidaklah terjadi sesuatu kejadianpun dimuka bumi
ini dan pada diri kamu sekalian (masyarakat) melainkan ada dalam catatan
sebelum kamu beberkan. Sesungguhnya hal itu bagi Tuhan prkara yang mudah.”
5. Al-qur’an,
S.Ar-Ra’d (XII), artinya : “ Sesungguhnya Tuhan tidak merubahsesuatu (nasib)
yang ada pada suatu bangsa sehingga mereka merubah sendiri apayang ada pada
diri (jiwa) mereka.”
6. Al-qur’an, S.
Al-Hadid, artinya : “ Agar kamu tidak putus asa kemalangan yng menimpa dan
tidak pula terlalu bersuka ria dengan kemajuan yang akan datang padamu.”
KETUHANAN YANG
MAH ESA DAN PERIKEMANUSIAAN
1. Al - qur’an,
S. Lukman (XXXI) 30, artinya : “Demikianlah sebab sesungguhnya Tuhan itulah
kebenaran, sedang apa yang mereka suka selain-Nya adalah kepalsuan dan sesungguhnya
Tuhan itu Maha Tinggi dan Maha Agung.
2. Al – qur’an,
S. Ali – Imran (III) 6, artinya : “Tidak lagi seorangpun suatu kebahagiaan itu
dianugerahkan oleh-Nya (Tuhan) kecuali (Amal perbuatan) semata – mata untuk mencari
(ridho) Tuhan Yang Maha Tinggi, dan tentulah ia akan meridhoinya.”
3. Al – qur’an,
S. Ali – Imran (III) 19, artinya : “Sesungguhnya agama itu bagi Tuhan adalah
penyerahan diri (Islam).”
4. Al – qur’an,
S. Al – Ahzab (XXXIII) 49, artinya : “Mereka yang menyampaikan ajaran – ajaran
Tuhan dan tidak menghambakan dirinya kepada siapapun selain kepada Tuhan dan
cukuplah Tuhan yang memperhitungkan (amal mereka).”
5. Al – qur’an,
S. Asy – Syu’ara (XXVI) 226, artinya : “Dan sesungguhnya mereka itu mengatakan
hal – hal yang mereka tidak kerjakan.”
6. Tentang
rangkaian tak terpisahkan dari pada iman dan amal saleh dapat dilihat dari pengulangan
tidak kurang dari lima puluh kali kata – kata Aamu wa’amilus shaihat dan
terdapat dimana – mana di dalam Al – qur’an.
7. Al – qur’an,
S. Ann – Nur (XXVI) 39, artinya : ‘Orang – orang kafir itu amal dan perbuatannya
bagaikan fata morgana di satu lembah. Orang yang kehausan mengirimnya air,
tetapi setelah ditanda tanganinya tidak didapatnya suatu apapun.”
8. Al – qur’an,
S. Al – Baqarah (II) 109, artinya : “Apakah orang yang mendirikan bangunannya
di atas dasar taqwa kepada Tuhan dan mencari ridho-Nya itu lebih baik, ataukah
orang yang mendirikan bangunannya pada tepi jurang yang retak kemudian roboh
bersamanya masuk neraka jahanam.”
9. Al – qur’an,
S. Lukman (XXXI) 13, artinya : “Sesungguhnya syirik itu kesalahan yang besar.”
10. Imam tidak
mungkin bercampur dengan kejahatan, sebagai mana tersimpul dalam Al – qur’an,
S. Al – An’am (VI) 84, artinya : ‘Mereka yang beriman dan tidak mencampur iman
mereka dengan kejahatan, mereka itulah yang mendapat petunjuk.”
11. Hadist,
artinya : “Sesungguhnya yang paling khawatirkan sekalian ialah syirik kecil yaitu
ria (pamrih).”
12. Disimpulkan
dari titik perpisahan antara orang – orang kafir pemegang Kitab Suci (Kristen
dan Yahudi) dalam al – Qur’an, S. Ali Imran (111) 64, artinya : “Katakanlah : Hai
orang pemegang Kitab Suci Kristen dan Yahudi marilah kamu sekalian menuju titik
persamaan antara kami (ummat Islam0 dan kamu, yaitu bahwa kita tidak mengabdi
kecuali pada Tuhan Yang Maha Esa kita tidak sedikitpun membuat syirik kepada-Nya
dan tidak pula sebagian kita mengangkat sebagian yang lain menjadri Tuhan –
tuhan (dengan kekuasaan dan wewenang seperti dan Tuhan Yang Maha Esa) selain Tuhan
Yang Maha Esa, Kemudian jika mereka mengejak katakanlah : Jadilah kamu sekalian
sebagai saksi kepada Tuhan saja”.
13. Al – Qur’an,
S. An – Nahl (XVI) 90, artinya : “Sesungguhnya Tuhan memerintahkan untuk
menegakkan keadilan dan menguasahakan perbaikan.”
INDIVIDU DAN
MASYARAKAT
1. Al – Qur’an,
S. Az – Zkhruf (XLII), artinya : “Kami (Tuhan) membagi – bagi di antara mereka
manusia kehidupan mereka di dunia.”
2. Al – Qur’an,
S. Al – Maidah (V) : 48, artinya : “Bagi setiap golongan diantara kamu ialah kami
tetapkan suatu cara dan jalan hidup tertentu.”
3. Al – Qur’an,
S. Al – Lail (XCII) : 4, artinya : “Sesungguhnya usahamu sekalian (manusia)
sangat beraneka ragam.”
4. Al – Qur’an,
S. Al – Isra’ (XVII) : 84, artinya : “Katakanlah : Setiap orang bekerja sesuai
dengan pembawaannya. Sebenarnya Tuhanmulah Pula yang lebih mengetahui siapa
yang lebih benar kalau hidupnya.”
5. Al – Qur’an,
S. Az – Zumar (XXXIX) 39, artinya : “Katakanlah : Hai Kaumku, bekerjalah sesuai
dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (Pula), maka kelak kamu akan
mengetahuinya juga.”
6. Al – Qur’an,
S. Yusuf (XII) 53, artinya : “Bengotong – royonglah kamu sekalian dalam kebaikan
dan taqwa dan janganlah kamu bergotong – royong dalam kejahatan dan permusuhan.”
7. Al – Qur’an,
SYAI – Maidah (V) 2, artinya : “Bergotong – royonglah kamu sekalian dalam
kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu bergotong – royong daam kejahatan dan
permusuhan.”
8. Al – Qur’an,
S. ZakZalah (XCIX) 7 – 8, artinya : “Barang siapa mengerjakan seberat atom
kebaikan dan akan menyaksikan (akibat baiknya) dan barang siapa mengerjakan
seberat atom kejahatan diapun akan menyaksikan (akibat buruknya)”.
9. Al – Qur’an,
S. At – Taubah (IX) : 75, artinya : “Dan jika orang – orang (Jahat) itu bertaubat
maka kebaikan bagi mereka, tetap jika mereka membanggakan maka Tuhan akan
menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat.”
10. Al – Qur’an,
S. An – Nahl 30, artinya : “Dan mereka yang be ang dijalan-Ku (kebenaran), maka
pasti Aku tunjukkan jalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta
kepada orang – orang yang selalu berbuat baik (progresif).”
11. Al – Qur’an,
S. Al – Hujarat (XLIX) 13, artinya : “Hai sekalian ummat manusia, sesungguhnya
Kami (Tuhan) telah menciptakan kamu dari laki – laki dan perempuan dan kami
jadikan berbangsa – bangsa dan bersuku – suku ialah agar kami saling mengenal,
sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu bagi Tuhan ialah yang paling
bertaqwa (cin kebenaran) sesungguhnya Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha
Meneliti.” Al – Qur’an, S. Al – Hujarat (XLIX) 10, artinya : “Sesungguhnya
orang – orang yang
beriman (cinta
kebenaran) itu bersaudara, maka usahakanlah adanya kerukunan dan diantara
golongan saudaramu.”
KEADILAN SOSIAL
DAN KEADILAN EKONOMI
1. Al - Qur’an,
S. Al – lail (XCII) 8 – 9 – 10, artinya : “Adapun orang – orang kafir tidak mau
mengorbankan sedikitpun (dari haknya) dan merasa cukup sendiri (engoistis) serta
mendustakan (mencemoohkan) kebaikan, maka ia kami licinkan jalan kearah kesukaran
(kekacauan).”
2. Al – Qur’an,
S. Al – Maidah (V) 8, artinya : “Janganlah sekali – kali kebencian segolongan
orang itu membuat kamu menyeleweng dan tidak menegakkan keadilan, tegakkan
keadilan itulah yang lebih mendekati taqwa (kebenaran) dan bertaqwalah kamu
kepada Tuhan.”
3. Al – Qur’an, S,
Al – imran (11) 104 artinya : “Hendaklah diantara kamu suatu kelompok yang
mengajak kebaikan, memerintahkan yang maruf (baik) sesuai dengan prikemanusiaan
dan melarang yang munkar (Uahat) dan bertaqwalah kamu kepada Tuhan.”
4. Hadist :
“Tiap – tiap kamu adalah pemimpin dan tiap – tiap kamu bertanggung jawab atas
pimpinannya.”
5. Ditarik
kesimpulan dari keterangan orang – orang beriman Al – Qur’an, S. AS – Syura
(XLII), artinya : “Urusan mereka diselesaikan melalui musyawarah di antara mereka.”
Al – Qur’an, S. An – Nisa (IV) 59, artinya : “Sesungguhnya kesalahan terletak
pada mereka yang mendalami (bertindak tidak adil) kepada manusia dan berbuat kekecauan
di muka bumi tanpa ada alasan kebenaran.”
6. Al – Qur’an,
S. An – Nisa (IV) 59 : “hai orang – orang yang beriman, taatlah kamu sekalian
pada Tuhanmu agar kamu menunaikan amanat – amanat kepada yang berhak dan jika
kamu memerintahkan diantara manusia, maka memerintahkan kamu dengan keadilan.”
7. Al – Qur’an,
S. An – Nisa (IV) 59, artinya : “Hai orang – orang yang berimanm, taatlah kamu
sekalian kepada Rasul-Nya serta kepada yang berhak dan jika’ kamu memerintah
diantara manusia, maka memerintahkan kamu dengan keadilan.”
8. Al – Qur’an,
S. Al – Maidah (V) 59, artinya : “Barang siapa yang tidak menjalankan hukum
dengan apa yang diturunkan oleh Tuhan (ajaran kebenaran), maka mereka itu
adalah orang – orang yang jahat.
9. Al – Qur’an,
S. Al – Hadid (LVII) 20, artinya : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya hidup di
dunia (sejarah) ini adalah permainan kesenangan dan perhiasan serta saling memegang
urusan (pemerintah) diantara kamu.”
10. Al – Qur’an,
S. Al – Isra (XVII) 16, artinya : “Dan jika kami hendak membinasakan negeri,
maka kami perintahkan kepada orang – orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya
mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka
sudah sepantasnya berfaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami) kemudian kami
hancurkan negeri itu sehancur – hancurnya.”
11. Ditarik
kesimpulan firman Tuhan tentang orang – orang Yahudi yang terkutuk (karena sifat
– sifat kapitalis mereka yaitu Al – Qur’an, S. An – Nisa 160 – 161, artinya : “Maka
karena kejahatan orang – orang Yahudi itulah kami menghalangi jalan kepada Tuhan
(jalan kebenaran). Demikian juga karena mereka mengambil riba padahal sudah
dilarang, dan karena mereka merampas harta kekayaan manusia dengan cara yang
tidak benar (batil). Demikianlah juga dapat disimpulkan dari seruan Nabi Syu’ib
kepada rakhatnya Nabi Syu’ib adalah suatu prototype dari masyarakat yang tidak
adil atau kapatalis) tersebut di tiga tempat, antara lain ialah Al – Quran,
Surat Asy-Syu’ara (XXVI) 182 – 183, artinya : “Dan timbanglah dengan ukuran
yang betul (adil) serta janganlah merampas harta milik sesama manusia dan
janganlah kamu melakukan kejahatan di muka bumi ini sambil membuat kekacauan.” Terjadinya
tindakan – tindakan atas sesama manusia (exploitation del’homeper I’home)
dipahamkan dari firman Tuhan dalam Al – Qur’an, Surat Al – Baqarah (11) 279,
artinya : “ ....... Dan jika kami tau’bat (berhenti menjalankan riba atau penindasan
kapitalis) maka kamu memperoleh kembali capital – capitalmu kami tidak boleh
mendalami (memerlukan secara tidak adil, menindas) dan tidak pula boleh didzalimi
(diperlukan tidak adil, ditindas).” “Jaminan kemenangan bagi kaum miskin dalam
(Al – Quran juga disebut secara khusus dengan Al – Mustaz afun adapun, artinya
orang – orang yang dilemahkan atau dijadikan hina – dina, ditindas), tersebut
dalam rangkaian cerita Fieaun yaitu S. Al Qashahs (XXVII) 5, artinya : “Dan
Kami (Tuhan) menghendaki untuk memberikan pertolongan kepada kaum tertindas di
bumi, untuk menjadikan pula mereka itu pewaris – pewaris.”
12.
Pemberantasan kapitalisme harus dilakukan dengan konsekuen, bila perlu dengan menyatakan
perang kepada kaum kapitalis, sesuai dengan perintah. Tuhan dalam Al – Qu’ran,
S. Al – Baqarah (11) 278, artinya : “Hai orang – orang yang beriman bertaqwalah
kamu benar – benar beriman. Jika tidak kamu kerjakan (perintah meninggalkan
riba) maka bersiaplah kamu sekalian terhadap adanya perang dari Tuhan dan
Rasul-Nya (perang suci jihad. Tetapi jika kamu taubat (berhenti dari penindasan
kapitalis) maka kamu dapat memperoleh kembali capital – Kapitalmu. Kamu tidak
menindas dan tidak pula ditindas.”
13. Al – Qur’an,
S. Humazah (CIV) 1-2-3, artinya : Celakalah bagi setiap pencerca (kaum sinis
kepada kebenaran) yang suka mengumpulkan harta dn menghitung-hitungnya, dia
mengira hartanya itu bakal mengekekalkannya.
14. Kaum
muslimin yang seharusnya mempelopori tugas suci itu. Kaum musimin digambarkan
dalam Al – Qu’ran, S. Ali Imran (111) 110, artinya : “Kamu adalah sebaik-baiknya
golongan yang diketengahkan diantara manusia karena kamu selalu menganjurkan
pada kebaikan dan mencegah daripada kejahatan dan kamu semua beriman kepada
Tuhan.”
15. Al – Qu’ran,
S. Ash-Shaf (LXI) 2-3, artinya : “Hai orang yang beriman, mengapakah kamu
mengatakan sesuatu yang kamu tidak kerjakan.”
16. Al – Qu’ran,
S. Al-Ankabut (XXIX) 45, artinya : “Sesungguhnya sembahyang itu mencegah
kekejian-kekejian dan sungguh selalu ingat kepada Tuhan itu merupakan suatu
Yang Agung.”
17. Hadist :
“Sembahyang adalah tiang agama, barang siapa mengerjakan berarti menegakkan
agama dan barang siapa meninggalkannya berarti merobohkan agama.”
18. Al – Qu’ran,
S. Lukman (XYXI) 30, artinya : “Demikianlah, sebab sesungguhnya Tuhan itulah
dan sesungguhnya apa yang mereka pula selain-Nya adalah kepalsuan dan
sesungguhnya Tuhan itu Maha Tinggi dan Maha Agung.”
19. Al – Qu’ran,
S. Ar-Rum (XYX) 37, artinya : “Tidaklah mereka mellihat bahwa Tuhan melapangkan
rizki (ekonomi) bagi siapa saja yang Ia kehendaki dan menyempitkannya,
sesungguhnya dalam hal itu ada pelajaran-pelajaran bagi orang yang beriman.”
20. Al – Qu’ran,
S. At-Taubah (IX) 60, artinya : “Sesungguhnya sedekah (zakat) itu untuk fakir
miskin.’
21. Al – Qu’ran,
S. Al-Baqarah (11) 188, artinya : “Dan janganlah kamu memakan harta dengan cara
yang batil (tidak benar) diantara kamu, dan kamu mengadakan hal itu kepada
hakim-hakim (pemerintah) agar kamu dapat mengambil bagian dari harta orang lain
dengan dosa, pada hal kamu mengetahui.”
22. Al – Qu’ran,
S. Furqan (XXV) 67, artinya : “Dan mereka yang apabila mempergunakan hartanya
tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan, melainkan kepada dalam keseimbangan
antara keduanya.”
23. Al – Qu’ran,
S. Al-Isra (XVII) 67, artinya : “Berikanlah kepada keluarga itu haknya (dari
harta yang kami miliki) demikian juga kepada orang miskin dan kepada orang terlantar
dan janganlah berlebihan itu adalah kawan-kawan setan sedangkan setan ingkar
kepada Tuhannya.”
24. Al – Qu’ran,
S. Al-Isra (XVII) 16, artinya : “Apabila Kami (Tuhan) menghendaki untuk menghancurkan
suatu negeri. Kami berikan kesempatan kepada orang-orang yang mewah di negeri
itu untuk memerintah, kemudian mereka membuat kecurangankecurangan di negeri
itu maka benar-benar terjadilah keputusan kata (vonis) atas negeri itu, lalu
kami hancurkan.”
25. Al – Qu’ran,
S. Muhammad (XLVII) 38, artinya : “Demikianlah kamu orang-orang yang diserukan
untuk mempergunakan hartamu di jalan Tuhan (untuk kebaikan kepentingan umum), maka
diantara kamu ada yang kikir dan barang siapa kikir maka sesungguhnya ia kikir
pada dirinya sendiri. Tuhan tidak memerlukan sesuatupun tetapi kamulah yang
memerlukan dan kalau kamu berpaling tidak mau mempergunakan harta untuk
kebaikan umum. Tuhan akan menggantikan kamu dengan golongan lain kemudian
mereka tidak lagi seperti kamu.”
26. Al – Qu’ran,
S. Thaha (XX) 6, 63, 4, 123, 131, 132 artinya : “Ingatlah bahwa sesungguhnya
kepunyaan Tuhanlah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumu.”
27. Al – Qu’ran,
artinya : “Adalah Kami (Tuhan) yang sesungguhnya menempatkan kamu ke bumi dan
membuat untuk kami sekalian di dalamnya prikehidupan mata pencaharian.”
28. Al – Qu’ran,
S. Al-Hadid (LVII) 7, artinya : “Berimanlah kamu kepada Tuhan dan Rasulnya dan
dermakanlah dari harga kamu jadikan oleh Tuhan untuk mengurusnya.”
29. Al – Qu’ran,
S. Al-Isra (XVII) 67, artinya : “Dan berikanlah kepada mereka (orang-orang miskin)
itu dari harta Tuhan yang telah diberkahkan-Nya kepadamu.”
30. Al – Qu’ran,
S. Al-Ma’aridi (LXX) 24-25, artinya : “Dan orang-orang pada harta mereka
terdapat hak yang pasti bagi orang miskin yang meminta-minta maupun yang tidak
minta-minta.”
KEMANUSIAAN DAN
ILMU PENGETAHUAN
1. Al – Qu’ran,
S. At-Tien (XCV) 6, artinya : “Kecuali mereka yang beramal saleh.”
2. Al – Qu’ran,
S. Al-Qashash (XXVII) 8, artinya : “Segala sesuatu itu rusak (berubah) kecuali
dari padanya.”
3. Al – Qu’ran,
S. Al-An’am (VI) 57, artinya : “Sesungguhnya hukum atau nilai itu hanya kepunyaan
Allah, Dia menerangkan keberatan dan Dia adalah sebaik-baiknya pemutus
perkara.”
4. Al – Qu’ran,
S. Al-Isra (XVII), artinya : “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak
mempunyai pengertian akan dia, sebab sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati nurani itu semuanya bertanggung jawab atas hal tersebut”
5. Al – Qu’ran,
S. Fathir (XLI), artinya : “Akan perhatikan kepada mereka (manusia) tanda-tanda
Kami diuar angkasa dan dalam diri mereka sendiri sehingga menjadi jelas bahwa
Al – Qur’an itu benar. Tidaklah cukup dengan Tuhan bahwa Dia menyaksikan segala
sesuatu”
6. Al – Qu’ran,
S. Fathir (XXXV) 287, artinya : “Sesungguhnya yang bertaqwa tidak hanya Tuhan
melainkan Allah begitu pula pada Malaikat dan orang-orang yang berilmu
pengetahuan dengan tegak pada kejujuran”
7. Al – Qu’ran,
S. Muhaddalah (LVIII) 11, artinya : “Allah mengangkat orang-orang diantara kamu
dan yang berilmu pengetahuan yang bertingkat-tingkat”
8. Al – Qu’ran,
S. Al-Jatsiyah (XLV) 134, artinya : “Dan Dia (Tuhan) menyediakan bagi kamu apa
yang ada dilangit dan di bumi”
9. Al – Qu’ran,
S. Al-Imran (III) 137, artinya : “Telah lewat setelah kamu hukum-hukum sejarah,
maka menggambarkan di muka bumi kamu kemudian perhatikanlah olehmu bagian
akibat orang-orang yang mendustakan-Nya”
10. Al – Qu’ran,
S. As Syam (XCI) 9-10, artinya : “Sungguh berbahagialah dia yang membersihkannya,
(sisinya) dan sungguh celakalah bagi mereka yang mengotorinya (dirinya)”
11. Al – Qu’ran,
S. Yusuf (XI) 111, artinya : “Sungguh dalam riwayat mereka itu terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang berfikir”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar